Opini  

Doa Ibu yang Tak Pernah Lelah Menyebut Nama Kita

Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com

Di dunia yang gemar merayakan keberhasilan dengan tepuk tangan, ada satu sosok yang memilih berdiri di balik layar sunyi, namun tak pernah pergi. Ia adalah “Ibu”.
Pengorbanannya tidak selalu tercatat dalam angka, tidak pula terpahat di monumen. Ia hidup dalam punggung yang menua lebih cepat, dalam mata yang tetap terjaga saat dunia terlelap, dan dalam doa yang tak pernah meminta balasan.
Ibu belajar mengalah sejak pertama kali menggendong harapan. Ia menunda mimpi-mimpinya agar mimpi anaknya tumbuh lebih dulu. Dalam diam, ia menukar lelahnya dengan senyum, dan menyembunyikan lukanya agar kita tak ikut merasakan perihnya dunia.
Cintanya tidak berisik. Ia tidak menuntut pengakuan. Ia hanya ingin kita pulang dengan selamat, dengan hati yang masih lembut.
Sering kali, kita mengenal ibu lewat rutinitas: suara langkahnya di dapur, panggilan yang terdengar biasa, atau nasihat yang terasa mengganggu. Namun waktu akan mengajarkan satu hal yang menyedihkan sekaligus indah bahwa semua itu adalah bahasa cinta yang paling jujur.
Bahasa yang baru benar-benar kita pahami saat rindu mulai terasa lebih berat dari jarak.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan. Ia adalah jeda. Waktu untuk menundukkan kepala, mengingat betapa banyak air mata yang tidak pernah kita lihat, dan betapa banyak doa yang diam-diam menyelamatkan hidup kita.
Untuk ibu yang masih ada, peluklah ia lebih lama.
Untuk ibu yang telah pergi, sebut namanya dalam doa paling dalam.
Karena seorang ibu tidak pernah benar-benar meninggalkan anaknya ia hanya berpindah tempat, dari dunia ke langit, dari pelukan ke kenangan.
Selamat Hari Ibu.
Untukmu, perempuan paling kuat yang tak pernah menyebut dirinya pahlawan.
Cintamu adalah rumah, bahkan saat kami lupa jalan pulang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *