Pasaman Barat, Wartapatroli.com — Hujan yang turun tanpa jeda dalam beberapa hari terakhir bagaikan untaian nada murung yang menggema di langit Pasaman Barat. Di bawah tirai air yang tak kunjung berhenti, dunia pendidikan di daerah ini ikut terseret dalam irama pilu alam. Sedikitnya 22 sekolah dari berbagai jenjang kini terendam banjir seakan buku, papan tulis, dan ruang kelas hanyut bersama aliran waktu yang basah.
Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat mencatat pada Selasa (25/11), seluruh sekolah terdampak berada dalam kondisi lumpuh, dari genangan ringan hingga terhentinya total aktivitas belajar. Sebuah gambaran muram di tengah persiapan ujian semester yang makin dekat.
Sekolah-sekolah yang Tenggelam dalam Duka Air
Tingkat Taman Kanak-kanak (TK):
1. TK ABA Desa Baru Ranah Batahan
2. TK Kasih Ibu Koto Balingka
Jenjang Sekolah Dasar (SD):
1. SDN 18 Lingkung Nan Duo
2. SDN 25 Lembah Malintang
3. SDN 08 Sasak
4. SDN 23 Pasaman
5. SDN 28 Kinali
6. SDN 08 Koto Balingka
7. SDN 14 Koto Balingka
8. SDN 10 Sei Beremas
9. SDN 04 Ranah Batahan
10. SDN 12 Ranah Batahan
11. SDN 13 Ranah Batahan
12. SDN 03 Sei Beremas
Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP):
1. SMPN 02 Sasak
2. SMPN 04 Koto Balingka
3. SMPN 04 Kinali
4. SMPN 05 Sei Beremas
5. SMPN 05 Koto Balingka
6. SMPN 03 Lembah Malintang
Jenjang MTs:
1. MTs Sikabau Koba
Jenjang SMA/SMK:
1. SMA Citra Insani Sikabau
Ruang Belajar Sunyi, Suara Anak-anak Menghilang
Di beberapa sekolah, halaman yang biasanya ramai dengan tawa murid kini berubah menjadi kolam luas. Air berwarna keruh menggulung bangku yang terbalik, mengalir melewati pagar, dan memisahkan anak-anak dari hari-hari belajarnya. Sebagian sekolah terpaksa menerapkan libur situasional, menunggu air surut dan kondisi kembali aman.
Namun, seperti puisi yang belum rampung, jeda ini hanya sementara. Ujian semester sudah di depan mata, dan setiap sekolah memiliki cerita berbeda tentang bagaimana banjir merenggut alurnya.
Pemerintah Mengimbau: Tetap Waspada di Tengah Murka Alam
Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat mengajak seluruh satuan pendidikan, orang tua, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Segala bentuk kerusakan fasilitas, akses yang terputus, atau kondisi berbahaya bagi murid dan guru diminta segera dilaporkan.
Di balik air yang menggenang, masyarakat berharap:
semoga hujan segera reda, dan sekolah-sekolah ini kembali dipenuhi suara ilmu, bukan lagi deru air yang mengaburkan harapan.(Ari)












