Cerpen : By Bagindo
Di tengah rutinitas hidup dan kehidupan bak alur turunan ambun pagi menuju tepian danau Maninjau yang penuh dengan liku, masyarakat kembali diingatkan pada sebuah “Petuah Legendaris” dari sosok yang tak kalah fenomenal, sebut saja “Kak Ipin dan Mak Kitiang”, sang motivator dadakan yang dikenal dengan filosofi ekonominya yang sederhana namun menghentak dada namun menimbulkan tawa.
Ketika banyak orang letih menghadapi beban dan cobaan hidup, stres menghadapi tagihan, atau pening kepala melihat harga cabe yang kian meroket lebih cepat dari harga diri mantan, Kak Ipin dan Mak Kitiang, tampil membawa wejangan sakti tanpa sesajen.
“Dima ado masalah, di sinan pitih masuak.”
Ucapan ini sontak menjadi mantra penyemangat kalangan domestik. Beberapa warga bahkan mengaku kini mulai melihat masalah bukan sebagai beban, tapi sebagai investasi emosional jangka panjang.
Di ibu kota kabupaten Agam, misalnya, seorang pedagang lontong, dan Pramuniaga kopi sangah mengaku bahwa sejak mengikuti filosofi Kak Ipin dan Mak Kitiang, ia mulai tersenyum setiap kali hujan deras mengguyur. “Biasanya kalau hujan sepi pelanggan. Tapi sekarang kalau sepi, saya bilang ke diri sendiri, sabar… pitih lai tapi Sadang di jalanan,” ujarnya sembari mengipas lontong dan adonan kopi sangah yang belum laku.
Sementara itu, seorang pegawai kantoran di Lubuk Basung, mengungkapkan bahwa setiap kali bosnya mulai marah-marah tanpa alasan jelas, ia hanya menutup mata dan membayangkan uang berdesakan memanjat pagar untuk masuk ke dompetnya. “Awalnya sakit hati. Tapi setelah ingat kata Kak Ipin dan Mak Kitiang, langsung terasa seperti ada cashback kehidupan,” ucapnya sambil tertawa sendiri.
Fenomena ini bahkan membuat beberapa ahli ekonomi lokal mulai mempertimbangkan teori baru yang mereka sebut “Ekonomi Masalah Berbasis Pitih”, di mana setiap musibah dianggap memiliki potensi pemasukan, entah dalam bentuk bantuan, lembur, atau sekadar ucapan “sabarlah, ini ada sedikit untuk jajan.”
Namun tentu saja, tak semua masalah bisa langsung menghasilkan pitih. Beberapa warga menegaskan bahwa filosofi ini bukan untuk menyepelekan cobaan, melainkan sebagai cara untuk menjaga kewarasan di tengah hidup yang kadang komedi, kadang tragedi, kadang dua-duanya sekaligus.
Meski demikian, petuah Kak Ipin dan Mak Kitiang, kini mulai diabadikan sebagai salah satu pepatah modern Ranah Minang. Mungkin kelak akan terukir di dinding balai adat, berdampingan dengan pepatah-petitih klasik,
“Dimana ada masalah, di situ ada pitih masuak.”
Kalimat yang sederhana, namun cukup ampuh membuat hidup lebih ringan, atau setidaknya, membuat orang tertawa dulu sebelum stres menyerang.
Dan seperti kata Kak Ipin, “Kalau pitih belum masuk, Bersabarlah… mungkin masih macet di jalan.”(*)












