Opini  

Agam dalam Lubang, Lampu Jalan Yang Tak Menyala

Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com

Pagi itu Kamis 29 Januari 2026 sekitar pukul 02.37 WIB dini hari, tanpa sengaja penulis mendengar cerita tiga orang lelaki dewasa di kios kecil depan RSUD Lubuk Basung, yang penulis tidak tau nama dan dari daerah mana tiga orang itu, yang pasti mereka orang Lubuk Basung.

Setelah penulis telaah dan amati mereka menceritakan tentang Wajak Lubuk Basung yang notabene sebagai ibu kota kabupaten Agam, ungkapan itu mereka awali di tanah Agam roda kehidupan sering kali harus melambat. Bukan karena lalu lintas padat, melainkan karena infrastruktur baik jalan provinsi apa lagi kabupaten penuh lubang seperti luka lama
yang tak diobati, melainkan hanya ditambal janji-janji tanpa inplenentasi.

Aspal menganga di banyak sudut nagari, seakan mengintai ban pecah, motor tergelincir,
dan kecelakaan yang selalu disebut “Musibah”,
padahal ia lahir dari kelalaian dan kekurang pedulian yang berulang.

Ironisnya lagi kita semua tau bahwa di babarapa titik persimpangan, saat jam sibuk ketika ASN dan anak sekolah merenda asa kendaraan saling menatap tanpa komando. Tak ada lampu merah, tak ada isyarat siapa yang harus berhenti dan arah mana yang terus melaju.

Yang ada hanya adu keberanian, sementara keselamatan dibiarkan bertaruh pada nasib. Lalu jika hujan turun sebentar saja Padang Baru, yang merupakan jantung kota Lubuk Basung berubah menjadi lautan yang penuh genangan.

Bukan karena hujan yang luar biasa lebatnya, tetapi karena buruknya sistem drainase kota yang seakan sudah lelah, tersumbat, dangkal, yang nyaris tak pernah diperbarui.

Air mencari jalan sendiri,
dan jalan raya dipertengahan kota menjadi pelampiasannya. Ironisnya, di atas kertas perencanaan, Musrenbang proyek prioritas satu terlihat megah dan menjanjikan bak fatamorgana.

Namun di lapangan,
banyak yang tak berjalan,
terhenti di papan nama proyek dan spanduk seremonial. Rakyat bertanya:
prioritas untuk siapa,..? dan keseriusan pemerintah sejauh mana..?

Warga Agam tidak menuntut keajaiban.
Tidak meminta istana di tengah sawah. Mereka hanya ingin jalan yang layak, lampu lalu lintas yang berfungsi, drainase kota dan irigasi persawahan yang bekerja,
dan janji kampanye yang pernah diucapkan Bupati Agam segera ditepati.

Sebagai mana ikrar yang diucapkan pada pengambilan sumpah jabatan kepemimpinan bukan sekadar hadir di acara dan singgasana kemegahan tahta bukan pula sekedar deretan foto di baliho dan ruang ruang kantor ber AC.

Kepemimpinan adalah kehadiran nyata di lubang jalan, di genangan air,
di keresahan warga yang tak lagi bisa ditenangkan dengan kata kata “akan dan segera”. Agam tidak kekurangan rencana,
yang kurang adalah keseriusan nahkoda dan ABK nya

Dan hari ini, rakyat menagihnya bukan dengan amarah, tetapi dengan harapan yang mulai lelah menunggu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *