Oleh: Endrizal, S.Pd
Guru SD Negeri 38 Lubuk Sao
Ramadhan selalu datang dengan wajah yang teduh. Ia seperti embun yang turun perlahan di ujung malam, membasahi hati yang kering, menenangkan jiwa yang letih. Bulan suci ini adalah tamu agung yang dirindukan umat Nabi Muhammad SAW di seluruh penjuru dunia bulan penuh ampunan, bulan keberkahan, bulan di mana langit terasa lebih dekat dengan bumi.
Dalam hitungan hari, Minggu ke dua April 2026 Ramadhan 1447 H kembali menyapa kita, selain mengetuk pintu-pintu rumah, ia juga mengetuk pintu-pintu hati. Mengajak kita menunaikan rukun Islam yang ketiga berpuasa di bulan suci yang mana di dalamnya terukir peristiwa agung Nuzulul Qur’an dan tersimpan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun, apa dinyana Ramadhan kali ini hadir dalam suasana yang berbeda, khususnya bagi masyarakat Agam. Pasca bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor yang melanda beberapa waktu lalu, duka masih menggantung di udara. Rumah-rumah rusak, harta benda hanyut, dan beberapa keluarga harus menerima takdir kehilangan orang tercinta.
Luka itu belum sepenuhnya sembuh, sementara Ramadhan telah berdiri di ambang pintu. Di sinilah yang namanya keimanan itu diuji. Sebagai mana yang sama sama kita sadari di dalam perspektif religius, yang namanya musibah itu bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah bahasa Tuhan yang tidak selalu kita pahami, tetapi selalu mengandung makna yang tersurat dibalik yang tersirat.
Ia adalah ujian keimanan, sekaligus panggilan untuk kembali menundukkan hati dan kepala kita kepada Allah SWT.
Bencana seakan menyadarkan kita betapa rapuhnya bangunan yang kita dirikan, betapa terbatasnya kekuatan yang kita banggakan. Dalam sekejap, air dan tanah dapat mengubah segalanya. Ramadhan datang seolah menjadi pelita di tengah gelapnya suasana. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal dari perjalanan sabar dan tawakal, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, Ia adalah madrasah jiwa, dan Ia mengajarkan kita memperbaiki hubungan vertikal kepada Sang Khalik melalui puasa, shalat, dan lantunan ayat-ayat suci alqur’an.
Namun lebih dari itu, Ramadhan adalah panggilan untuk merajut kembali hubungan horizontal antar sesama manusia. Kesalehan tidak cukup berhenti di sajadah. Ia harus menjelma menjadi tangan yang terulur, bahu yang siap menopang, dan hati yang peka terhadap derita sesama. Dalam masa pasca bencana ini, nilai-nilai Ramadhan menemukan relevansinya yang paling nyata. Ketika sebagian saudara kita masih bertahan dalam keterbatasan, bantuan sederhana makanan untuk sahur dan berbuka, pakaian yang layak, selimut yang hangat, obat-obatan menjadi ibadah yang hidup.
Setiap uluran tangan adalah sedekah. Setiap empati adalah doa yang berjalan. Setiap kepedulian adalah ayat kasih sayang yang ditulis dalam tindakan.
Bencana mungkin telah merobohkan bangunan fisik, tetapi jangan sampai ia meruntuhkan bangunan ukhuwah. Justru dalam keadaan seperti inilah solidaritas menemukan maknanya. Ramadhan mengajarkan bahwa keberkahan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketulusan berbagi. Puasa melatih kita merasakan lapar dan dahaga, agar kita mampu memahami derita mereka yang kekurangan bukan hanya karena ibadah, tetapi karena keadaan yang memaksa.
Ramadhan 1447 H hendaknya kita maknai sebagai momentum kebangkitan spiritual pasca bencana hidrometeorologi. Bulan suci ini adalah ruang rekonstruksi, bukan hanya membangun kembali rumah dan infrastruktur yang rusak, tetapi juga membangun kembali harapan yang sempat runtuh, iman yang sempat goyah, dan kepedulian sosial yang harus terus dijaga.
Musibah adalah ujian. Ramadhan adalah kesempatan. Ketika keduanya bertemu, maka yang lahir seharusnya adalah keteguhan iman dan kekuatan kebersamaan.
Akhir kata, atas nama pribadi dan keluarga besar SD Negeri 38 Lubuk Sao, kecamatan Tanjung Raya, izinkan penulis meringkas kata “Marhaban ya Ramadhan” serta mengucapkan
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H. Semoga setiap air mata berubah menjadi doa, setiap luka menjadi penguat jiwa, dan setiap langkah kebaikan menjadi cahaya yang menerangi hari-hari kita semoga Ramadhan kali ini benar-benar menghadirkan cahaya religi di balik ujian yang kita hadapi.(*)












