Agam, Wartapatroli.com, –
Rabu (26/11) sore, Jorong Toboh kecamatan Malalak Kabupaten Agam, seakan menjadi panggung bagi sebuah simfoni alam yang menggetarkan, dentum gemuruh dari arah perbukitan memecah sore yang basah. Dalam hitungan detik, air bah melesat turun seperti orkestra liar yang kehilangan konduktor, menghantam rumah-rumah warga dan mengoyak tanah kelahiran yang selama ini damai.
Arus bandang menyeret puluhan rumah, menyisakan hanya pecahan kayu, serpihan atap, dan kepedihan yang menggantung di udara. Tidak ada yang bisa benar-benar menghitung apa yang hilang yang tertinggal hanyalah puing yang berserak dan malam yang kian kelam.
Hujan, bagaikan biola sendu yang tak putus-putus, terus mengalun tanpa jeda. Angin menderu seperti timpani yang tak bersahabat. Listrik padam sepenuhnya, meninggalkan kampung dalam kegelapan yang kian menyesakkan. Sinyal komunikasi terputus; dunia seolah menjauh dari Malalak Timur. Senter dan ponsel dengan baterai sekarat menjadi satu-satunya cahaya kecil yang berjuang melawan gulita, “Ungkap salah seorang warga Nuar Sidi Marajo, (54) saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, Rabu (26/11) by phon.
Di tengah hiruk-pikuk air yang menggelora, warga saling berteriak mencari nama-nama yang belum kembali. Ada yang menggamit tangan keluarga, ada yang berlari menembus lumpur, dan ada yang hanya bisa memandang kosong, tak tahu harus melangkah ke mana.
Namun dalam kekacauan itu, kabar duka hadir seperti nada rendah yang menghentak jantung
Azir dan Azmar ditemukan tergeletak tak bernyawa, diantara puing – puing berselimutkan lumpur, “terang Nuar, lirih tanpa air mata.
Dua insan yang kini kembali ke pangkuan Ilahi, meninggalkan Malalak dalam ratap yang tak terukur.
Para penyintas bertahan di titik-titik aman, sebagian masih menggigil oleh syok. Beberapa lansia dalam pengungsian membutuhkan obat asma segera, sementara puluhan balita amat memerlukan perlengkapan bayi. Akses menuju lokasi masih sulit, membuat bantuan seperti melodi yang tertahan sebelum sempat dimainkan.
Jumlah warga hilang masih belum dapat dipastikan. Komunikasi yang lumpuh membuat pencarian dilakukan dengan ketidakpastian yang menyesakkan. Warga yang tinggal di lereng bukit telah dievakuasi gelisah menanti datangnya hari, khawatir akan longsor susulan yang sewaktu-waktu dapat turun seperti dentuman terakhir dari tragedi ini.
Sementara itu di tengah kesunyian malam dan gemuruh hujan yang tak jua reda, doa-doa terangkat bagaikan harpa yang lembut namun penuh luka.
Kita berharap semoga Allah SWT melindungi warga Toboh, menguatkan hati yang dirundung duka, serta menuntun keselamatan bagi mereka yang masih menunggu dalam gelap.
Sebuah simfoni pedih tengah dimainkan di Malalak Timur semoga segera berganti menjadi lagu pemulihan dan harapan.(Bagindo)












