Andre Rosiade : Kasus Nenek Saudah Bagaikan Gunung Es Dibalik Tambang Emas Ilegal Sumbar

Pasaman, Wartapatroli.com –
Langit Sumatera Barat seakan menyimpan rahasia besar di balik keruhnya aliran sungai-sungai. Dari Pasaman hingga Sijunjung, dari Solok Selatan sampai Pasaman Barat, emas mengalir namun bukan ke negara, melainkan ke tangan-tangan gelap yang selama bertahun-tahun bekerja di bawah bayang hukum.

Kini, tirai itu mulai disingkap, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, resmi membawa persoalan tambang emas ilegal (PETI-red) di Sumatera Barat ke jantung penegakan hukum nasional : Bareskrim Polri. Senin (12/1/2026), Andre datang langsung ke Mabes Polri, Jakarta Selatan, menuntut satu hal, penambang ilegal harus ditangkap, bukan sekadar ditegur.

“Kasus Nenek Saudah itu hanya seperti gunung es. Di bawahnya ada jaringan besar tambang ilegal di Pasaman, Pasaman Barat, Solok Selatan, Sijunjung, dan wilayah lain,” tegas Andre.

Fakta di Permukaan
Selama bertahun-tahun, praktik PETI di Sumatera Barat telah menjadi rahasia umum. Sungai-sungai dikeruk, hutan dibuka, dan merkuri meracuni tanah namun aktivitas itu tetap berjalan seolah tak tersentuh hukum.

Andre menyebut, meski sebelumnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit pernah turun langsung dan aktivitas PETI sempat mereda, kenyataannya tambang ilegal kembali hidup, lebih licin dan lebih rapi.

“Hilang beberapa bulan, lalu muncul lagi. Itu artinya ada sesuatu yang tidak beres,” katanya.
Di Balik Kasus “Nenek Saudah”
Nama Nenek Saudah mencuat bukan karena tambang, melainkan karena kasus pidana penganiayaan.

Namun Andre menegaskan, kasus itu hanyalah pintu masuk.
“Kami tidak ingin kasus ini berhenti di penganiayaan. Ada kejahatan yang jauh lebih besar tambang ilegal. Dan mereka yang selama ini kebal hukum tidak boleh selamat.”

Di sinilah narasi berubah dari kriminal biasa menjadi dugaan kejahatan lingkungan terorganisir sebuah ekosistem ilegal yang melibatkan alat berat, modal besar, dan perlindungan terselubung.
Ancaman Nyata bagi Sumatera Barat
Tambang ilegal bukan sekadar soal emas.

Ia adalah pemicu bencana.
Banjir bandang, longsor, sungai tercemar, sawah rusak semuanya adalah harga yang dibayar rakyat atas keserakahan segelintir orang.
Andre mengaitkan ini langsung dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri untuk menertibkan tambang liar.

“Kita tidak ingin kerusakan lingkungan ini melahirkan bencana baru. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal keselamatan rakyat.”

Apa yang Akan Terjadi?
Andre memastikan koordinasi dengan Dirtipidter Bareskrim Polri akan berlanjut. Tim pusat akan diturunkan, bukan untuk razia simbolik, tetapi untuk menyasar aktor utama di balik PETI Sumbar.

Ia juga mengingatkan keras kepada jajaran kepolisian daerah:
“Saya berharap polres-polres di Sumatera Barat tidak tutup mata. Semua orang tahu tambang-tambang ilegal itu ada.”

Epilog : Emas dan Darah

Di sungai-sungai Sumatera Barat, emas dan lumpur mengalir berdampingan. Tapi di balik kilau emas, ada tanah yang sekarat, air yang tercemar, dan hukum yang diuji.

Kasus Nenek Saudah hanyalah percikan kecil. Api sesungguhnya adalah jaringan PETI yang selama ini membakar hutan dan masa depan.
Kini, pertanyaannya tinggal satu apakah hukum akan benar-benar turun ke sungai-sungai emas itu, atau kembali tenggelam dalam lumpur? (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *