Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com
Di balik duka yang mengalir seperti sungai tua di lembah Alam Minangkabau, ada rangkaian sebab dan peristiwa yang mengantar bencana ini hingga menjadi tragedi terbesar dalam beberapa dekade. Investigasi awal memperlihatkan bahwa apa yang terjadi di Agam bukanlah sekadar “kemurkaan alam”, tetapi gabungan dari faktor cuaca ekstrem, kondisi geomorfologi, dan indikasi kelalaian manusia yang menumpuk seperti batu-batu di lereng bukit.
1. Curah Hujan Aneh yang Tak Lazim Seolah Mengulang Catatan Cuaca Abad Lampau
Data meteorologi menunjukkan hujan bertahan dalam intensitas sangat tinggi selama lebih dari 72 jam. Dalam naskah kuno Minang, pernah dicatat hujan “tigo ari tigo malam” sebagai pertanda perubahan besar. Kali ini, pola itu kembali muncul secara ilmiah
Curah hujan melampaui 300–400 mm/hari, angka yang memasuki kategori ekstrem.
Awan konvektif yang bertahan lama di barat Sumatra menunjukkan gangguan atmosfer skala regional.
Analisis ilmiah menegaskan bahwa sistem tekanan rendah di Samudra Hindia mendorong hujan terus-menerus, mempercepat pelemahan struktur tanah di perbukitan.
2. Lembah Maninjau dan Agam yang Rapuh Topografi Indah yang Menyimpan Luka Lama
Lereng kawasan Maninjau, Palembayan, dan Malalak dikenal memiliki:
Tanah lapuk vulkanik yang mudah jenuh air.
Kemiringan curam yang rawan longsor.
Jejak patahan aktif yang menyusup sunyi di bawah bukit.
Para ahli geologi pernah memperingatkan bahwa struktur tanah di beberapa titik sudah memasuki tahap “kritis”. Dalam bahasa para leluhur, tanah ini seperti “kulit bumi yang sedang demam”. Hujan ekstrem hanya menjadi pemicu terakhir dari rentetan kerentanan yang lama terabaikan.
3. Indikasi Kerusakan Vegetasi Lereng yang Kehilangan Penjaganya
Investigasi lapangan menemukan beberapa bukti
Penurunan tutupan hutan di beberapa titik hulu sungai dan lereng.
Aktivitas manusia seperti perladangan berpindah, pembukaan lahan, hingga permukiman baru yang memperkecil daya serap tanah.
Aliran sungai yang menyempit dan berubah arah akibat sedimentasi.
Lereng yang dulu dijaga akar pepohonan kini menjadi “lembah tanpa penyangga”. Dalam kisah kuno, pepohonan dianggap “penjaga bumi”. Ketika penjaga hilang, bencana menjadi tak tertahankan.
4. Jejak Mata yang Menyaksikan Kesaksian Korban dan Warga
Laporan warga memperkuat detail peristiwa
Suara gemuruh terdengar 3–5 menit sebelum banjir bandang muncul.
Aroma tanah basah yang pekat menandakan tanah longsor besar tengah bergerak.
Arus air membawa bongkahan kayu besar dan batu sebesar rumah, yang menunjukkan longsor dan banjir terjadi bersamaan.
Seorang saksi menggambarkan momen itu seperti “gunung turun berjalan”, sebuah metafora kuno yang kembali hadir dalam kenyataan pahit.
5. Keterlambatan Informasi & Kewalahan Sistem Peringatan
Investigasi awal mencatat:
Sistem peringatan dini (early warning) masih terbatas di beberapa nagari.
Komunikasi terputus karena jaringan listrik padam hampir bersamaan dengan awal bencana.
Jalur evakuasi terhambat longsor susulan.
Dalam catatan klasik, bencana sering digambarkan sebagai “pesan alam yang luput dibaca manusia”. Kini, ungkapan itu memiliki makna yang sangat nyata.
6. Kerusakan Infrastruktur yang Memperparah Situasi
Pemeriksaan lapangan menemukan:
Jembatan-jembatan utama terputus di lebih dari 10 titik.
Akses Lubuk Basung–Maninjau–Bukittinggi lumpuh oleh longsor berlapis.
Saluran air dan drainase tersumbat sedimen, mempercepat luapan banjir.
Tanpa akses, proses penyelamatan dan bantuan menjadi perlahan sebodoh pedang yang kehilangan sarungnya.
7. Dampak Kemanusiaan Korban dan Kehilangan yang Sulit Terbayangkan
Data yang dikumpulkan posko gabungan mencatat:
Ratusan korban meninggal dunia dan hilang.
Puluhan rumah tersapu bersih tanpa sisa.
Ribuan orang mengungsi, banyak kehilangan seluruh harta dan anggota keluarga sekaligus.
Jika dalam kisah kuno ada “elegi negeri yang digulung badai”, maka Agam kini tengah menulis versinya sendiri tanpa metafora, tanpa jeda.
Dari seluruh temuan, jelas bahwa bencana ini adalah pertemuan antara amarah cuaca ekstrem, kerentanan alam yang diwariskan geologi, dan ketidaksiapan manusia memperkuat perlindungan terhadap tanah yang mereka pijak. Luka Agam memang lahir dari kedahsyatan alam, tetapi ia membesar karena celah yang selama ini dibiarkan terbuka.
Dan seperti dalam naskah-naskah tua yang ditulis di daun lontar, pada akhirnya manusia kembali menatap bumi sambil berdoa agar tragedi tak terulang, dan agar tanah yang retak ini perlahan kembali pulih.(*)












