Agam, Wartapatroli.com, – Di bawah langit yang sejak dua hari terakhir tak pernah kering, Nagari Tiku V Jorong seolah tenggelam dalam kesunyian air dan gelap malam. Hujan yang turun tanpa ampun menjadikan rumah-rumah seperti pulau kecil, dan jalan-jalan berubah menjadi sungai yang tak bertepi.
Roza Syafdefianti, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Agam, berdiri di tengah hiruk-pikuk koordinasi dan menyampaikan kabar terbaru dari daerah yang kini dicekam banjir. Suaranya tenang, namun membawa beban duka yang berat.
Di Jorong Muaro Putuih, Dusun Antokan menjadi panggung paling getir. Air setinggi 50 hingga 100 sentimeter menutup akses menuju dusun, memutus langkah dan harapan.
“Sekitar sepuluh kepala keluarga masih terisolir,” ujar Roza pelan, seolah menggambarkan manusia-manusia yang kini menunggu pertolongan di balik genangan. Mereka berlindung di rumah Kepala Dusun dan beberapa titik tinggi tempat di mana air belum berani menyentuh.
Gelombang harapan sempat tiba ketika alat berat loader milik PT Mutiara Agam menembus banjir, mengevakuasi sebagian warga, sekaligus mengangkut bantuan makanan dari Dinas Sosial pada pukul 19.00 WIB. Tidak dengan mobil, bukan pula perahu tetapi dengan deru mesin alat berat yang menjadi satu-satunya penolong.
Namun cerita duka lain bergulir di Jorong Masang Timur, atau Gadih Angik, di mana jalan-jalan terendam hampir dua meter.
“Masih ada warga yang perlu dievakuasi, namun kita benar-benar tak punya armada perahu,” kata Roza. Banjir bukan hanya soal air, tapi tentang jarak yang tiba-tiba tak lagi bisa dijangkau.
Di tengah semua itu, gelap menjadi teman yang tidak pernah diminta. Listrik padam dua hari dua malam kini memasuki malam ketiga. Tanpa penerangan, tanpa sinyal, tanpa air bersih untuk memasak.
“Kami sudah berkoordinasi dengan PLN, tapi belum ada kepastian,” ungkap Roza.
Dari kejauhan, secercah cahaya tampak datang dari laut. Roza menyebut bantuan TNI AL telah digerakkan: 15 personel, satu boat karet, dan satu truk dari Lantamal Padang bersiap menuju lokasi. Bantuan itu datang bukan hanya dari institusi, tapi dari ikatan batin: warga Tiku yang bertugas di Lantamal dan tokoh masyarakat yang saling menjahit harapan.
Pemerintah Kabupaten Agam, ujar Roza, terus berjaga, menatap kondisi dengan mata yang tak lelah.
“Kebutuhan mendesak sekarang adalah evakuasi, perahu, listrik, dan air bersih. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengutamakan keselamatan.”
Hujan terus turun, air terus naik, namun di tengah langit yang muram itu, langkah-langkah kecil penyelamatan tetap berusaha menembus gelombang.
Banjir mungkin menenggelamkan daratan tetapi tidak tekad untuk bertahan.(Bagindo)












