Agam  

Bayang Senja di Pulau Makan : Jejak Kasus yang Mengusik Ketenteraman Warga

Pesisir Selatan, Wartapatroli.com, – Senja di Pulau Makan biasanya datang dengan damai, diiringi desau angin dari rawa dan riak air tempat warga mencari lokan. Namun pada Kamis (20/11) sekitar pukul 17.00 WIB, keheningan itu terusik oleh kedatangan polisi menuju sebuah rumah sederhana di Nagari Taluk Amplu Inderapura, Kecamatan Pancung Soal.

Di rumah itulah seorang pria bernama Jon (56), pencari lokan yang dikenal sebagai sosok pendiam, ditangkap aparat karena dugaan tindakan pencabulan terhadap dua bocah perempuan yang merupakan anak tetangganya sendiri. Kedua korban, sebut saja AR dan GZ, masih berusia enam tahun, usia ketika dunia seharusnya penuh warna dan permainan, bukan luka.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pesisir Selatan, AKP Yogie Biantoro, membenarkan penangkapan tersebut saat ditemui pada Jumat (21/11).
“Keduanya berusia enam tahun. Mereka anak tetangga pelaku,” ujarnya singkat, menahan nada tegas yang terselip keprihatinan.

Jejak Awal Terungkapnya Kasus

Menurut informasi yang dihimpun, kecurigaan warga bermula ketika kedua bocah menunjukkan perubahan sikap yang tidak biasa. Orang tua mereka kemudian melakukan penelusuran, hingga laporan resmi dilayangkan ke kepolisian. Penyelidik kemudian bergerak cepat, mengamankan terduga pelaku untuk menghindari risiko warga bertindak sendiri.

Resah, Marah, dan Keheningan yang Pecah

Warga Pulau Makan, yang sehari-hari hidup saling bergantung dalam harmoni kampung pesisir, mengaku terkejut. Nama Jon sebelumnya tak pernah dikaitkan dengan persoalan hukum. Namun, seperti kata seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya, “Kegelapan kadang muncul di tempat yang paling tak kita sangka.”

Kini, rumah kayu Jon berdiri sepi, seperti menyimpan cerita yang belum seluruhnya terbuka.

Penyelidikan Berlanjut

Polisi masih mendalami motif, mengumpulkan alat bukti, serta melakukan pendampingan terhadap keluarga korban. Proses hukum menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut, sementara masyarakat berharap keadilan ditegakkan tanpa kompromi.

Di tengah hiruk-pikuk penyelidikan, satu hal kembali mengemuka: bahwa keamanan anak-anak adalah pondasi sebuah komunitas. Sekali pondasi itu retak, seluruh kampung merasakannya.(Bagindo/int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *