Bencana Beruntun Menerpa Kabupaten Agam, “Alam Seakan Merintih, Manusia Hanya Bisa Pasrah”

Agam, Wartapatroli.com, – Kabupaten Agam kembali diguncang oleh rangkaian bencana yang datang tanpa jeda, seolah alam tengah meluapkan murka yang telah lama dipendam. Entah apa yang salah, dan siapa yang harus dipersalahkan, yang jelas, tanah dan air di Ranah Minang hari ini seperti berbicara dengan bahasa yang getir.

Hujan yang tak kunjung berhenti sepanjang dua hari terakhir membuat Kabupaten Agam berada dalam kondisi siaga tinggi. Dari Bawan hingga Tanjung Raya, dari Palembayan hingga Matur, bencana datang silih berganti bagaikan rangkaian nada minor yang membentuk satu simfoni kesedihan.

Bawan : Banjir Menggenangi Ampek Nagari

Di Kecamatan Ampek Nagari, Bawan diterjang banjir yang datang tiba-tiba. Air bah meluap dari aliran sungai yang tak lagi mampu menampung derasnya curah hujan. Rumah-rumah warga dikepung air, jalanan berubah menjadi aliran keruh, dan aktivitas masyarakat lumpuh seketika. Warga terpaksa menyelamatkan barang yang bisa dijangkau sebelum air semakin naik.

Palembayan : Longsor di Beberapa Titik

Di Kecamatan Palembayan, tanah yang jenuh oleh air akhirnya menyerah. Beberapa titik longsor terjadi hampir bersamaan, membuat akses jalan terputus dan kendaraan mengular panjang. Tebing runtuh membawa material batu dan lumpur, memaksa warga serta pengendara untuk menunggu bantuan sambil memantau kondisi tebing yang masih labil.

Balai Belo dan Sekitar Sungai Landia : Banjir dan Bandang

Malam ini, bencana kembali menyapa Tanjung Raya. Banjir dan banjir bandang menghantam Balai Belo serta kawasan sekitar Sungai Landia dipenuhi irama pepohonan yang tumbang menutup akses jalan. Air berkejaran dari hulu, membawa pepohonan, lumpur, dan material alam lainnya. Warga yang tinggal dekat aliran sungai panik dan berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Suara gemuruh air bercampur dengan teriakan saling mengingatkan.

Matur – Bukittinggi : Pohon Tumbang, Tanah Turun

Tidak berhenti sampai di situ, jalur Matur–Bukittinggi juga menjadi saksi bencana lain : pohon-pohon tumbang memblokade jalan, sementara tanah turun dari lereng membuat kondisi semakin berbahaya. Pengendara harus mengantre panjang, melaju dengan sangat hati-hati agar tidak terjebak dalam amukan alam yang belum juga mereda.

Kabupaten Agam seakan menjadi kanvas dari drama alam yang datang bertubi-tubi. Derasnya hujan, runtuhnya tebing, meluapnya sungai, hingga tumbangnya pepohonan menjadi potongan-potongan adegan yang menegangkan. Dalam setiap kejadian, masih tampak solidaritas warga saling membantu, saling menjaga, saling menguatkan.

Namun pertanyaan besar tetap menggantung di udara lembab malam ini,
Sampai kapan Agam harus menahan derita bencana beruntun..?
Alam berbicara, dan kini manusia hanya mampu mendengar serta berharap pagi berikutnya membawa kabar yang lebih tenang.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *