Agam, Wartapatroli.com – Siang di Maninjau terasa berbeda. Hembusan angin dan riak danau seakan memperlambat langkah orang-orang yang menunggu kabar baik. Tepat pukul 13.30 WIB, aura harapan itu tiba bersama rombongan Bupati Agam, Ir H Benni Warlis, MM Dt Tan Batuah, yang datang bersama para perantau Minang membawa bantuan bagi warga terdampak bencana.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Camat Tanjung Raya, Al Hafizd, di halaman kantor camat. Di tengah cuaca yang mulai menghangat, keduanya bersalaman dan berkoordinasi singkat, sebelum bergerak menuju Posko Lapangan Jorong Bancah, Nagari Maninjau, salah satu titik yang merasakan luka terdalam akibat bencana.
Camat Tanjung Raya, Al Hafizd, menggambarkan suasana lapangan yang dinamis setiap jam ada laporan baru, setiap detik ada harapan untuk kabar lebih baik.
“Data korban dan warga terdampak terus kita update setiap jam. Situasi berubah cepat, jadi kami pastikan seluruh laporan dari jorong masuk lengkap. Kehadiran Bupati dan bantuan dari saudara-saudara perantau sangat berarti bagi kami dan masyarakat di sini,” tuturnya, dengan mata yang terlihat lelah namun tetap menyimpan tekad kuat.
Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan disalurkan langsung ke posko-posko agar warga yang rumahnya rusak berat dan yang masih mengungsi bisa segera mendapatkan dukungan.
Sementara itu, Bupati Agam Benni Warlis menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras jajaran kecamatan dan nagari, yang tanpa henti melakukan pendataan, evakuasi, dan penguatan psikologis bagi warga.
“Kami melihat langsung bagaimana masyarakat dan pemerintah kecamatan bergerak bersama. Ini kekuatan kita. Bantuan dari perantau hari ini adalah bukti bahwa orang Minang tak pernah membiarkan saudaranya berjalan sendiri. Fokus kita sekarang adalah memenuhi kebutuhan mendesak warga dan memastikan proses pemulihan berjalan secepat mungkin,” ujar Bupati dengan suara yang menenangkan warga di sekitarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah siap menambah personel dan logistik untuk wilayah yang aksesnya masih terhalang material longsor.
Rombongan kemudian meninjau posko lapangan, berdialog dengan warga, dan memastikan kebutuhan mendesakmulai dari air bersih, makanan, hingga alat kebersihan tersalur tanpa hambatan. Di antara wajah-wajah letih para penyintas, hadir pula cahaya kecil: keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.
Di tengah keterpurukan, Maninjau hari itu kembali terasa hidup—bukan karena senyumnya sudah pulih, tetapi karena tangan-tangan yang datang membantu memberi alasan untuk tetap bertahan.(Bagindo)












