Agam  

Bentuk Kepedulian, Ratusan Pelayat Sholatkan 10 Jenazah Tanpa Identitas Korban Galodo Palembayan

Agam, Wartapatroli com, – Dalam suasana duka yang menyayat dan penuh keheningan, ratusan pelayat memadati Masjid Agung Nurul Fallah, Padang Baru, Lubukbasung, Kamis (11/12). Di bawah atap masjid yang menjadi saksi banyak peristiwa umat, hari itu kepedulian dan kemanusiaan menyatu dalam satu prosesi sakral: menyalatkan sepuluh jenazah tanpa identitas, korban galodo dahsyat yang merenggut banyak nyawa di Palembayan.

Dipimpin langsung Kapolres Agam, AKBP Muari, jamaah berdiri rapat dalam shaf, mengirimkan doa-doa terbaik untuk para syuhada bencana. Usai azan Zuhur bergema, dari halaman belakang RSUD Lubukbasung bergerak perlahan 10 ambulans, membawa mereka yang telah kembali kepada Sang Khaliq. Setibanya di masjid, jenazah diturunkan dengan penuh kehati-hatian, seakan setiap tangan yang menyentuh turut memikul duka keluarga yang belum ditemukan.

ASN Pemkab Agam, warga Padang Baru, tenaga kesehatan RSUD, hingga personel Polres dan Polda Sumbar, semuanya menyatu tanpa sekat pangkat dan jabatan. Dalam empat takbir yang lirih dan khusyuk, ratusan jamaah mengantar mereka dengan doa terakhir doa yang menjadi jembatan antara bumi dan langit.

Prosesi tak berhenti di masjid. Usai dishalatkan, iring-iringan panjang kendaraan bergerak menuju TPU Pemkab Agam di Kampuang Baru, Sungai Jariang. Dua belas ambulans, sepuluh di antaranya membawa jenazah, berjalan perlahan diikuti pejabat daerah, kepolisian, dan para relawan. Di tanah pemakaman yang hening, liang lahat telah dipersiapkan dengan layak sesuai arahan Bupati Agam.

“Semua proses dilakukan secara terhormat dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan sesuai protap,” ujar Kadis Sosial Agam, Villa Erdi, menjawab Wartapatroli.com, Kamis (11/12) dengan nada yang menahan haru.

Sepuluh jenazah itu terdiri dari 5 anak-anak, 1 remaja, 2 potongan tubuh, dan 2 jenazah dewasa. Mereka korban bencana di Salareh Aia Utara, Palembayan, yang hingga kini belum dapat diidentifikasi oleh tim DVI RSUD Lubukbasung. Untuk menghormati mereka, setiap makam diberi label khusus, sebuah penanda agar kelak bila takdir mempertemukan kembali proses identifikasi ulang dapat dilakukan.

Di antara rintik hujan yang turun perlahan sore itu, tanah ditimbun, doa ditutup, dan kesedihan menggema dalam batin semua yang hadir. Meski nama mereka tak dikenal, kepedulian masyarakat menjadi bukti bahwa kemanusiaan tak pernah memerlukan identitas.

Mereka pergi tanpa nama, namun dimuliakan dengan cara terindah yang bisa diberikan manusia kepada manusia lainnya. Semoga Allah memberi tempat terbaik untuk mereka, dan ketabahan bagi siapa pun yang kelak mengenali kehilangan ini.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *