Agam, Wartapatroli.com —
Di tengah luka alam yang belum sepenuhnya mengering, langkah kaki Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M., Dt. Tan Batuah, menyusuri Lapangan Bola SD 05 Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, Selasa (23/12).
Di hamparan tanah yang pernah diterjang lumpur dan air bah, kini berdiri rangka-rangka Hunian Sementara (Baca-Huntara) yang merupakan simbol harapan bagi mereka yang telah kehilangan segalanya.
Didampingi Unsur Pengarah I BNPB Ary L.W., Perwakilan BNPB Eny Supartini, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Bupati Benni Warlis, meninjau langsung Pembangunan Hunian Sementara (Huntara-red) bagi korban banjir bandang dan tanah longsor.
Tatapan Bupati tak sekadar menghitung unit bangunan, tetapi seakan membaca kisah pilu yang tertinggal di balik setiap dinding papan. Di lokasi ini, suara palu dan derap langkah prajurit TNI AD bersahut-sahutan, membangun bukan hanya rumah, tetapi juga kembali menegakkan martabat dan rasa aman warga yang sempat runtuh bersama bencana.
Pembangunan Huntara di Kecamatan Palembayan ditargetkan rampung pada 30 Desember 2025, dengan total 207 unit yang tersebar di tiga titik. Setiap unit disiapkan untuk satu kepala keluarga satu ruang kecil untuk merajut kembali kehidupan yang tercerai.
“Huntara ini kami bangun agar masyarakat terdampak dapat segera menempati hunian yang layak. Di sinilah mereka akan kembali memulai,” ujar Benni Warlis kepada Wartapatroli.com, dengan nada yang menyiratkan beban sekaligus tanggung jawab.
Memasuki hari pertama perpanjangan masa tanggap darurat, Bupati Agam juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada BNPB dan TNI AD yang bekerja di bawah terik dan hujan, menyatukan tenaga demi kemanusiaan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Agam, kami mengucapkan terima kasih kepada BNPB dan TNI yang telah mendampingi dan melaksanakan pembangunan Huntara ini,” pungkasnya.
Di Palembayan, bencana telah meninggalkan jejak luka. Namun di antara papan, paku, dan kerja kolektif, perlahan tumbuh keyakinan bahwa dari puing dan duka, kehidupan masih bisa disusun kembali.(Bagindo)












