Agam  

Bupati Agam Tinjau Longsor Palembayan “Jejak Tanah Yang Bicara”

Palembayan, Wartapatroli.com – Tanah yang merekah akibat diguyur hujan lebat beberapa hari belakangan ini di lereng-lereng perbukitan Palembayan bukan sekadar bencana alam ia seperti membuka lembaran cerita lama tentang rapuhnya keseimbangan antara manusia dan bumi yang diinjaknya.
Di tengah kabut tipis dan aroma tanah basah, Bupati Agam, Ir H Benni Warlis MM Dt Tan Batuah, bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Dr Muhammad Lutfi AR, turun langsung meninjau lokasi longsor yang menghentak warga setempat, Minggu (23/11).

Kedatangan rombongan orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, itu tak hanya berupa langkah protokoler. Di balik tatapan Bupati terhadap tebing yang runtuh, seakan tergambar tanda tanya besar yang menghantui wilayah rawan bencana itu Kenapa Palembayan kembali runtuh..?

Jejak Retakan yang Tak Selesai Diceritakan

Longsor yang terjadi memperlihatkan lapisan-lapisan tanah yang terkelupas seperti halaman buku yang dibuka paksa. Warga menceritakan suara gemuruh yang memecah hening subuh, seolah bukit sedang mengeluh setelah menahan beban terlalu lama.

“Tanah ini sudah lama memberi tanda,” ujar salah seorang warga yang hadir saat peninjauan. Di beberapa titik, terlihat akar-akar pohon yang menggantung putus penanda bahwa penyangga alam itu kian menipis, “Ujarnya saat ditemui Wartapatroli.com Minggu (23/11) di lokasi longsor.

Pemerintah Bertanya, Tanah Menjawab

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Benni Warlis, tampak berbicara serius dengan tim teknis dan perangkat nagari. Ada nada investigatif dalam setiap pertanyaan yang dilontarkan.

Bagaimana kondisi penahan tebing selama ini..?

Adakah aktivitas pembukaan lahan yang mempercepat erosi..?

Apakah sistem drainase kawasan ini berfungsi atau justru memperparah pelapukan tanah..?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar pencarian fakta, melainkan upaya menyingkap apa yang selama ini jarang diakui, bahwa longsor tidak hadir begitu saja, ia diundang oleh curah hujan tinggi, oleh kemiringan bukit, dan kadang, oleh tangan manusia sendiri.

Menurut pantauan Wartapatroli.com, dilapangan, Palembayan, merupakan Alam yang Indah tetapi Mudah Terluka

Kawasan Palembayan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kontur berbukit terjal. Keindahannya kerap menyembunyikan risiko yang mengintai di balik vegetasi rimbun. Sejumlah titik yang diperiksa Bupati tampak menunjukkan tanda-tanda ketidak stabilan lama, tanah retak memanjang, pohon miring, hingga aliran air yang menggerus diam-diam.

Rencana Pemulihan dan Peringatan

Usai peninjauan, pemerintah daerah menyampaikan perlunya penanganan struktur tanah jangka panjang, bukan sekadar pembersihan material. Bupati menegaskan pentingnya,
Penguatan tebing di zona merah, Penataan ulang drainase kawasan,

Penghijauan yang berfungsi sebagai sabuk pengaman alami,

Dan edukasi warga untuk semakin waspada terhadap tanda-tanda awal longsor.

Namun di balik rencana teknis itu, ada pesan yang lebih puitis tetapi tegas bahwa tanah yang bicara lewat longsor harus didengarkan, bukan diabaikan.

Bencana ini bukan sekadar angka kerugian atau laporan teknis. Ia adalah sebuah narasi alam yang tercipta dari interaksi manusia dengan ruang tinggalnya. Investigasi yang dilakukan pemerintah hari itu merupakan upaya membaca karya besar yang ditulis bumi kadang indah, kadang tragis, tetapi selalu sarat makna.

Dan Palembayan, pada hari itu, kembali menuliskan bab baru dalam perjalanan panjangnya bab tentang kerentanan, tentang peringatan, dan tentang harapan bahwa luka tanah bisa dipulihkan, selama manusia bersedia memperbaiki cara mereka memijaknya.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *