Jakarta, Wartapattoli.com – Dalam suasana tanah yang masih basah oleh duka dan langit yang enggan cerah, Anggota DPR RI Cindy Monica Salsabila Setiawan menyuarakan permintaan tegas namun penuh keprihatinan kepada pemerintah pusat menetapkan status bencana nasional menyusul banjir dan longsor besar yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Dalam keterangannya, yang dihimpun Wartapatroli.com Cindy menilai luka alam kali ini terlalu dalam untuk ditangani sendiri oleh pemerintah daerah. Skala kerusakan yang merentang dari lereng ke lembah, menyapu pemukiman dan memutus akses kehidupan, telah menjadi panggilan darurat bagi negara agar hadir dengan kekuatan penuh.
“Kerusakan ini bukan lagi sekadar angka. Ini tentang nyawa, tentang keluarga yang terpisah, tentang desa-desa yang hilang dalam sekejap,” ungkap Cindy dalam nada yang mencerminkan kepedihan masyarakat yang tengah berjuang.
Ia menyoroti kondisi terparah terjadi di Sumatera Barat, di mana sejumlah jalan utama terputus total akibat longsor. Jalan yang selama puluhan tahun menjadi nadi penghubung antarwilayah kini terbenam dalam lumpur dan batu, membuat banyak nagari terisolasi—sunyi tanpa pasokan, tanpa kabar, tanpa harapan yang pasti.
Kesulitan distribusi bantuan menjelma menjadi ancaman baru. Ribuan warga mengungsi dalam kondisi serba terbatas, sebagian bahkan mulai merasakan getirnya kelaparan karena logistik tak kunjung tiba. Tenda-tenda darurat berdiri tak hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai saksi bisu betapa rapuhnya manusia di tengah murka alam.
Sementara itu, listrik padam di berbagai titik, dan jaringan telekomunikasi terputus, membuat koordinasi evakuasi seperti berjalan dalam gelap. Petugas dan relawan bekerja dengan alat seadanya, diterangi sinar lampu yang meredup, namun semangat mereka tetap menyala demi menyelamatkan sesama.
Cindy menegaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, kehadiran pemerintah pusat bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. “Kita harus bergerak sebagai satu bangsa. Ketika daerah tak lagi mampu berdiri sendiri, negara harus memapahnya,” ujarnya.
Seruan ini bukan hanya panggilan politik, tetapi gema kemanusiaan sebuah ajakan agar negara hadir, bukan sekadar melalui kebijakan, tetapi melalui tangan-tangan yang membantu, bahu yang menguatkan, dan keputusan yang menyelamatkan.(Red/int)












