Opini  

Dampak Nyata Bencana Pada Pendidikan di Agam.

Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com

Didorong oleh rasa cinta dan peduli terhadap masa depan penerus bangsa dengan pengetahuan seadanya dan latarbelakang pendidikan non gelar izinkan penulis menorehkan sedikit pemahaman otodidak tantang dunia pendidikan pasca Bencana hidrometeorologi termasuk banjir, banjir bandang, dan tanah longsor telah menghancurkan infrastruktur pendidikan di banyak sekolah di Kabupaten Agam.

Setidaknya puluhan hingga ratusan sekolah mengalami kerusakan yang mengganggu proses belajar mengajar, dan 93 sekolah diliburkan sementara akibat dampak tersebut pada Desember 2025.

Kerusakan sekolah, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan fasilitas penunjang membuat layanan pendidikan tertunda tidak hanya sekadar tak ada kegiatan belajar, tetapi juga memengaruhi psikologis siswa, orangtua, dan guru.

Masa Depan Pendidikan di Kabupaten Agam : Tantangan dan Peluang
1. Pemulihan Infrastruktur yang Berkelanjutan
Pemulihan pendidikan tidak hanya soal membuka kembali sekolah, tetapi juga membangun kembali dengan ketangguhan bencana.

Sekolah perlu dirancang ulang dengan pertimbangan mitigasi bencana :
Lokasi kelas dan fasilitas di area aman dari ancaman longsor/banjir
Struktur bangunan dirancang tahan air, tanah longsor, dan diterjang cuaca ekstrem
Rute evakuasi dan titik aman jelas di setiap sekolah, Desain kolaboratif bersama perencana kota dan ahli mitigasi adalah investasi penting untuk “pendidikan yang bertahan” di masa depan.

2. Pembelajaran dan Dukungan Psikososial
Bencana fisik juga membawa dampak psikologis yang mendalam. Siswa yang mengalami kehilangan, trauma, atau gangguan rutinitas belajar membutuhkan dukungan ekstra.

Masa depan pendidikan harus menempatkan dukungan psikososial sebagai bagian inti dari kurikulum pasca-bencana termasuk konselor sekolah, pelatihan untuk guru dalam trauma-informed teaching, dan kegiatan pembelajaran yang sensitif terhadap pengalaman siswa.

3. Integrasi Pendidikan Risiko Bencana
Pelajaran mengenai risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan keterampilan bertahan hidup harus diintegrasikan ke dalam kurikulum formal.

Ini bukan hanya respons terhadap bencana, tetapi persiapan generasi yang akan hidup di lingkungan yang menghadapi ancaman yang makin sering akibat perubahan iklim.

Pendidikan risiko bencana dapat memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan siswa bukan hanya belajar, tapi juga siap bertindak saat bencana datang.

4. Pembelajaran Fleksibel dan Digital, Bencana sering kali memaksa sekolah ditutup karena infrastruktur rusak. Teknologi digital memberi peluang :
Pembelajaran jarak jauh saat sekolah fisik belum dapat dibuka
Modul pembelajaran offline (pre-download) untuk daerah yang belum ada akses internet
Kolaborasi antara guru dan siswa lewat platform digital Namun, ini juga menuntut investasi dalam jaringan internet, perangkat, dan pelatihan guru dalam pembelajaran digital.

5. Peran Komunitas dan Pemerintah Pemulihan pendidikan bukan hanya tugas sekolah : Orang tua dan komunitas terlibat dalam mengamankan fasilitas dan mendukung anak kembali belajar

Pemerintah pusat dan daerah terus mempercepat bantuan, baik secara material maupun kebijakan pemulihan cepat

Mitra pendidikan seperti NGO/pihak swasta bisa mendukung rehabilitasi sekolah, Pemerintah sudah bergerak cepat untuk memberikan dukungan darurat dan prioritas pemulihan layanan pendidikan di Agam.

Kesimpulan : Pendidikan Lebih Tangguh, Adaptif, dan Manusiawi, Masa depan pendidikan pasca bencana di Agam sebaiknya bukan sekadar kembali seperti semula, tetapi lebih kuat dan lebih manusiawi : Lebih kuat karena bangunan dan sistem pendidikan dipersiapkan untuk menghadapi bencana masa depan.

Lebih adaptif karena metode pembelajaran fleksibel dapat bertahan saat gangguan besar terjadi.

Lebih manusiawi karena fokus pada pemulihan psikologis dan keterlibatan komunitas, bukan hanya angka selesai ujian.

Berdasarkan ilmu dan pengetahuan serta latar belakang pendidikan seadanya pada kesempatan ini hanya itu yang bisa penulis sampaikan, semoga kedepan dunia pendidikan di Agam dapat sesuai dengan apa yang sama sama kita harakan, jika dalam tulisan ini ada kata kata atau kalimat yang penulis tuangkan tidak pada tempatnya penulis mohon maaf yang sebesar besarnya, wassalam.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *