Agam, Wartapatroli.com – Deru hujan yang tak kunjung jeda sejak beberapa hari terakhir telah menjelma menjadi simfoni bencana di Kabupaten Agam. Sepanjang Rabu (26/11), catatan kejadian terus bertambah, ibarat lembaran nada yang setiap barisnya menghadirkan kabar tentang banjir bandang, longsor, dan tanah yang terus bergerak gelisah. Melanda Wilayah Malalak, Balingka, IV Koto, hingga Bukik Batabuah kembali menjadi panggung alam yang muram, tempat masyarakat hanya bisa berharap pada keajaiban di tengah datangnya petaka.
Seorang tokoh masyarakat Malalak, Benen St Saidi, menuturkan kepada Wartapatroli.com Rabu (26/11) dengan suara yang telah kelelahan oleh kekhawatiran. Sejak Minggu lalu, curah hujan turun tanpa jeda, meresap ke tanah, mengguyur pepohonan, lalu menjatuhkan tubuh tebing-tebing yang tak lagi mampu bertahan. Pada Rabu sore, berbagai titik di sepanjang jalur Sicincin–Malalak–Balingka kembali tertutup longsor, sementara titik-titik rawan lainnya pun ikut berguguran.
Namun, puncak kengerian terjadi siang tadi. Sungai Batang Mangoe, yang biasanya hanya memantulkan sunyi alam Malalak, mendadak bangkit dalam kemarahan. Air yang datang bukan sekadar deras, tetapi membawa suara menggeram yang mengguncang dada setiap warga yang menyaksikan. Dalam hitungan menit, aliran yang mengamuk itu berubah menjadi banjir bandang dengan debit besar, menghantam apa saja yang berdiri di hadapannya.
Luapan tersebut menjalar, melebar, menelan sawah-sawah warga yang selama ini menjadi harapan hidup, lalu merangsek ke jembatan utama penghubung Nagari Malalak Selatan dan Malalak Barat di Jorong Sini Air. Jembatan itu yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu perjalanan warga menuju sekolah, ladang, dan pasar tidak sanggup bertahan. Dalam dentuman keras, ia patah, terseret air bah, dan menyisakan kekosongan di atas sungai yang mengamuk.
Dampaknya sungguh memilukan. Sedikitnya 60 kepala keluarga yang bermukim di sepanjang aliran Batang Mangoe kini berada dalam ancaman langsung. Banyak dari mereka memilih meninggalkan rumah yang telah mereka rawat bertahun-tahun, mengungsi ke dataran yang lebih tinggi, menyelamatkan diri sambil membawa pakaian seadanya, dokumen penting, dan harapan yang mereka peluk erat di dada.
“Warga di Sini Air kini terisolasi total. Jembatan putus, akses tak ada, cahaya pun padam. Seakan-akan seluruh dunia memunggungi kami,” tutur Benen St Saidi dengan tatapan sayu.
Kondisi ini sudah dilaporkan ke pihak terkait. Namun, irama bencana yang tak mereda membuat upaya penanganan belum dapat dilakukan secara optimal. Curah hujan justru semakin menggila setiap tetesnya seperti menambah beban warga yang tengah berjuang. Luapan Batang Mangoe semakin besar, sementara longsor baru terus terjadi.
Di tengah kegelapan malam, perasaan tersisih itu semakin terasa. Sudah tiga hari listrik padam, membuat warga terputus dari komunikasi. Ponsel mereka kini hanya benda dingin tak berdaya, tak lagi dapat menghubungkan mereka dengan dunia luar. Dalam sunyi yang menyesakkan itu, satu-satunya suara adalah deras air dan doa yang lirih memohon keselamatan.
Kini, Malalak sedang berada dalam salah satu malam paling panjang dalam sejarahnya. Warganya menatap langit yang tak bersahabat, sambil berharap bantuan segera datang sebelum hujan kembali menulis babak bencana berikutnya. Dalam tragedi ini, kabupaten Agam mencatat satu lagi kisah kepedihan kisah tentang manusia, alam, dan ketangguhan yang diuji tanpa henti.(Bagindo)












