Agam, Wartapatroli.com — Di Jorong Sungai Taleh, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, lumpur setinggi lutut orang dewasa menutup seluruh badan jalan provinsi sejak pagi, meninggalkan jejak kekacauan sekaligus pertanyaan besar: sampai kapan wilayah ini terus dibiarkan bertarung sendiri menghadapi amukan alam..?
Dalam rekaman video yang beredar, jalan yang biasanya menjadi nadi penghubung antar-nagari itu berubah menjadi lorong coklat pekat campuran tanah, air, dan serpihan pepohonan yang runtuh dari lereng. Para pengendara yang semula nekat mencoba lewat akhirnya menghentikan langkah, memilih putar balik sebelum terjebak dalam kubangan lumpur yang kian mengental.
“Kami butuh bantuan alat berat segera. Kalau dibiarkan, jalan ini tidak bisa dilewati sama sekali,” ujar seorang warga yang merekam peristiwa tersebut, suaranya tenggelam di antara gemuruh hujan yang belum juga reda.
Bukan Kejadian Tunggal, Palembayan Seperti Terkurung Perlahan
Informasi yang dihimpun Wartapatroli.com, Selasa (25/12), mengungkap bahwa Sungai Taleh hanya salah satu titik dari rangkaian longsor yang melanda Kecamatan Palembayan. Dari laporan warga, sejumlah ruas jalan lain turut terban, sebagian bahkan nyaris putus. Warga menyebut, pergerakan tanah mulai terlihat sejak dini hari, sesaat setelah hujan merintik berubah menjadi badai yang tak memberi jeda.
Mobilitas warga pun tersendat; akses ekonomi, pendidikan, hingga transportasi darurat harus menunggu kapan jalan kembali bisa dibuka. Di tengah situasi mendesak itu, masyarakat masih menanti kehadiran alat berat dari pemerintah daerah.
Ketika Alam Berbicara dalam Bahasa yang Kasar
Longsor ini tidak hanya menyisakan kelumpuhan fisik, tetapi juga tanda seru besar tentang rapuhnya keseimbangan alam Palembayan. Tebing yang seharusnya kokoh kini mudah runtuh, air yang mestinya tenang berubah menjadi arus liar. Seakan-akan bumi sedang mengirim pesan, tetapi manusia baru mendengarnya ketika jalan tertimbun dan rumah-rumah mulai terancam.
Dalam suasana dukacita itu, ada keheningan yang terasa puitis: batu, akar, dan lumpur menjadi bukti bahwa alam sedang menagih janji yang lama dilupakan. Sentuhan seni itu tampak ketika mata memandang hamparan lumpur yang mengalir seperti guratan kuas seorang pelukis frustrasi liar, luas, dan penuh peringatan.
Warga Menunggu, Waktu Terus Berjalan
Hingga berita ini disiarkan melalui akun Facebook Anizur Zubir Tanjung, warga masih bertahan di tepian jalan, menatap material longsor yang menghalangi kehidupan mereka. Harapan mereka sederhana: bantuan tiba sebelum hujan berikutnya membawa gelombang bencana yang lebih besar.
Di balik tumpukan lumpur itu, Palembayan tidak sekadar menunggu pertolongan ia memanggil, memohon agar manusia tak hanya datang untuk membersihkan jalan, tetapi juga untuk mencegah bencana berikutnya.
(Bagindo/int)












