Lubuk Basung, Wartapatroli — Setelah sukses besar dengan lagu “Tawa Indak Baramuan” yang diproduksi oleh Pamenan Music Record, kini sang maestro lagu Minang standar, Era Darwis, kembali menoreh langkah penting dalam perjalanan musik tradisi Minangkabau. Melalui karya yang sarat makna dan kental dengan nilai budaya, Era Darwis tengah mempersiapkan sepuluh karya emasnya yang akan diangkat dalam Festival Lagu Minang 10 Karya Terbaik Era Darwis pada November 2025 mendatang.
Lagu Tawa Indak Baramuan sendiri menjadi batu loncatan penting bagi dunia musik Minang kontemporer. Menampilkan Dafid IP, S.Pd., M.Pd. sebagai penyanyi sekaligus produser, video klipnya menghadirkan Bagindo Piliang, Al Guru, serta Era Darwis sendiri yang memerankan tokoh dukun dalam nuansa dramatik yang khas. Perpaduan unsur seni peran, musik, dan sastra Minang membuat karya ini mendapat sambutan hangat dari pecinta budaya lokal.
Dalam keterangannya kepada Wartapatroli.com, Rabu (29/10) Era Darwis mengungkapkan bahwa selain menyiapkan beberapa lagu Minang bernuansa tradisional baru, pihaknya juga tengah merancang konsep festival sebagai bentuk persembahan untuk pelestarian musik dan budaya Minangkabau.
“Festival ini bukan hanya ajang menampilkan karya, tetapi juga wadah untuk mencari dan menumbuhkan bibit penyanyi berbakat yang mencintai tradisi Minang. Kita ingin menunjukkan bahwa musik tradisi bisa tetap hidup, bahkan di tengah derasnya arus digitalisasi,” ujar Era Darwis penuh semangat.
Festival yang direncanakan berlangsung meriah ini akan menampilkan 10 lagu Minang terbaik ciptaan Era Darwis, lengkap dengan sentuhan musikal khas talempong, saluang, dan bansi yang berpadu harmonis dengan aransemen modern. Tak hanya sebagai hiburan, acara ini juga diharapkan menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat kekayaan seni dan budaya Minangkabau.
Dengan semangat pelestarian dan inovasi, Pamenan Music Record dan Era Darwis berkomitmen untuk terus menghadirkan karya-karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung nilai filosofis tentang kehidupan, adat, dan petuah Minang yang luhur.
Sebagaimana pepatah Minang mengatakan, “Lamak dek awak, katuju dek urang,” karya musik sejati akan selalu menemukan tempatnya di hati masyarakat. Dan melalui festival ini, Era Darwis berharap, gema lagu Minang akan terus menggema, menyatukan generasi lama dan baru dalam satu irama kebudayaan yang abadi.(En Guru)












