Agam  

Fikri Kecil, Di Beranda yang Tak Lagi Memanggil” Korban Bencana Tanah Longsor Jorong Arikia Nagari Dalko Tanjung Raya Kabupaten Agam.

Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com

Angin pagi yang dingin merayapi beranda kecil itu. Di sana, seorang anak lelaki kecil subarang aia, jorong arikia nagari dalko kecamatan Tanjung Raya kabupaten Agam bernama Fikri, (5) duduk memeluk lutut, memandang ke arah jalan tanah yang berliku. Setiap suara mesin lewat, setiap derap langkah, selalu membuat kepalanya menoleh cepat, seolah berharap dua sosok yang paling ia rindukan muncul dari balik kabut perbukitan arikia dama gadang tanjung raya.

Namun hari itu, seperti hari kemarin, mereka tak datang.
Dan besok pun, Fukri tahu… mereka juga tak akan pulang.

Sejak bencana tanah longsor merenggut kampung kecilnya beberapa hari lalu, Fikri belum sepenuhnya memahami apa arti “Kehilangan”. Ia hanya tahu bahwa ayah dan ibunya senja itu menumbuk padi, dan tersenyum, seperti biasa. Ibu sempat menata kerah bajunya, ayah mengacak rambutnya sambil berkata, “Tunggu kami, nak. Kita makan bersama sore ini.”

Tapi hujan turun terlalu deras.
Tanah di bukit retak terlalu lebar.
Dan waktu terlalu singkat untuk memberi mereka kesempatan kembali.

Di posko darurat, orang-orang dewasa sibuk. Ada yang menangis, ada yang memeluk tubuh yang tak lagi bernyawa, ada yang mencari nama kerabat di daftar korban. Di pojok posko, Fikri duduk sendirian, memeluk boneka yang ditemukan relawan di reruntuhan rumahnya. yang ada hanya ada buku gambar dan pensil patah.

Ketika seorang relawan perlahan mendekat dan berkata,
“Ayah sama ibu… sudah ditemukan, Nak,”
Fikri tidak menangis. Ia hanya menunduk, memeluk bonekanya makin erat.

“Kenapa mereka tak pulang?” tanyanya pelan.
Relawan itu tercekat, tidak tahu harus menjawab apa.

Malam itu, Fikri kembali duduk di beranda yang tersisa dari puing rumahnya. Langit cerah, penuh bintang, seolah tidak pernah menumpahkan hujan yang menghancurkan segalanya. Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik:

“Ibu, Ayah… Fikri di sini. Fikri masih nunggu. Tapi kalau Ayah sama Ibu sudah tidur di tempat yang lebih baik… Fikri akan tetap kuat.”

Di tengah sunyi, hanya suara serangga dan sisa puing yang sesekali runtuh.
Tidak ada langkah kaki di jalan tanah. Tidak ada panggilan hangat “Nak, kami pulang.”

Yang ada hanya seorang anak yang belajar berdamai dengan kehilangan, kehilangan yang datang terlalu cepat, terlalu kejam,
namun harus ia terima meski hatinya belum siap.namun apa dikata Fikri kecil itu kini hanya bisa menangis dan tertawa dipelukan paman yang merupakan saudara kembar sang ayah yang telah pergi untuk selama lamanya. (Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *