Agam, Wartapatroli.com – Banjir Bandang (Galodo-ref) kembali menerjang kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, tepat di malam pergantian Tahun Baru 2026, Rabu (31/12). Aliran Sungai Batang Muaro Pisang meluap secara tiba-tiba sekitar pukul 22.10 WIB, membawa material lumpur, batu, dan kayu dalam jumlah besar hingga menghantam permukiman warga serta menutup total akses jalan strategis Lubuk Basung–Bukittinggi.
Galodo ini dipicu oleh longsor di kawasan perbukitan hulu sungai yang menyebabkan perubahan alur aliran air. Material longsoran menutup jalur sungai lama dan memaksa air mengalir ke arah permukiman dan badan jalan.
Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Diskominfo Agam, Eki Marlinda, yang dikonfirmasi Wartapatroli.com melalui sambungan telepon, Rabu malam, menjelaskan bahwa dari hasil pemantauan tidak ditemukan genangan air besar di hulu sungai.
“Longsoran membuat alur sungai berubah. Material menutup aliran lama dan membentuk jalur baru ke arah depan BRI lama Maninjau,” ungkapnya.
Berdasarkan Pantauan udara menggunakan drone BPBD Agam di Sungai Muaro Pisang, Jorong Pasa Maninjau, menunjukkan aliran sungai dipenuhi lumpur, batu, dan kayu. Kondisi paling parah terpantau di Jorong Kuok Tigo Koto, Nagari Matua Mudiak, yang menjadi titik utama longsoran tebing.
“Akibat perubahan alur tersebut, aliran air tidak lagi melewati jembatan Batang Pisang. Material akhirnya meluber ke badan jalan dan kawasan permukiman warga,” jelas Eki.
Meski membawa material besar dan berdampak luas, galodo kali ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hal tersebut dinilai berkat kewaspadaan warga yang meningkat sejak tanda-tanda alam muncul beberapa jam sebelumnya.
Terpisah Staf Kantor Camat Maninjau, Evi Yuliendra, menyebutkan bahwa sejak Rabu malam aliran Sungai Batang Muaro Pisang sempat mengering secara tidak wajar.
“Itu tanda yang tidak biasa. Warga langsung waspada dan bersiaga,” ujarnya.
Fenomena tersebut memicu kekhawatiran akan adanya sumbatan alami di hulu sungai yang dikhawatirkan jebol sewaktu-waktu. Dalam kondisi gelap akibat listrik padam di sejumlah titik, warga memilih mengungsi menjauh dari bantaran sungai.
Simpang Jalan Kelok Satu sempat dipadati warga yang berjaga, sementara para pemuda setempat menutup dan membatasi akses kendaraan demi keselamatan bersama.
“Kesigapan warga sangat menentukan. Ini yang membuat tidak ada korban jiwa meskipun dampak material cukup besar,” tambah Evi.
Namun demikian, dampak infrastruktur tergolong parah. Material longsor menutup akses Maninjau–Lubuk Basung, jalur Maninjau menuju Sungai Batang, arah Kelok Satu, hingga kawasan Pasar Maninjau, menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh total.
Saat ini BPBD Agam bersama instansi terkait masih melakukan penanganan darurat dan mempersiapkan pembersihan material menggunakan alat berat. Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Batang Muaro Pisang diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi hujan lebat dan longsor susulan masih mengancam wilayah tersebut.(Bagindo)












