Agam, Wartapatroli.com – Di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, setiap langkah di tanah berlumpur itu terasa seperti membuka lembaran pilu yang tak bertepi. Di lokasi galodo yang menghancurkan pemukiman, alam seakan menyisakan luka besar bagi Sumatera Barat luka yang kini menjadi saksi bisu dari kehilangan, kebersamaan, dan perjuangan tanpa akhir.
Di dalam sebuah masjid yang dindingnya kusam oleh lumpur, belasan jenazah masih terbaring. Sebagian belum teridentifikasi, sementara sebagian lainnya belum dapat dievakuasi ke rumah sakit karena akses jalan tertutup total. Masjid yang biasanya dipenuhi lantunan doa kini berubah menjadi ruang duka, dengan lautan air mata tempat keluarga menahan harap, menatap wajah-wajah yang diam untuk selamanya.
Namun upaya tak pernah berhenti. Dengan bantuan helikopter, dua jenazah berhasil dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhayangkara Kota Padang untuk proses identifikasi dan pemulasaraan lebih lanjut. Setiap tubuh yang terangkat bukan sekadar angka dalam laporan melainkan kisah hidup yang harus dihormati hingga akhir.
Suasana di lapangan begitu haru. Deretan jenazah warga yang ditemukan tim gabungan menjadi pengingat nyata betapa dahsyatnya bencana ini.
Berdasarkan data yang didapat Wartapatri.com, Jum’at (28/11) dan Hingga saat berita ini diturunkan, sekitar 300 warga masih dinyatakan hilang. Setiap detik berharga, setiap harapan digantungkan pada kerja tanpa henti para petugas.
Tim gabungan TNI, Polri, BPBD, Basarnas, relawan, dan masyarakat setempat terus melakukan pencarian. Mereka membuka akses jalan yang tertimbun material longsor, mengangkut logistik dengan segala cara, dan memastikan tenaga kesehatan mencapai titik-titik terdampak. Lelah melekat di wajah mereka, namun tekad tetap menyala.
“Ini duka yang sangat dalam bagi Sumatera Barat. Kita akan terus berjuang sampai semua korban ditemukan dan setiap keluarga mendapatkan kepastian,” ujar Wakil Gubernur Sumatera Barat, Uda Vasco, yang didampingi Bupati Agam, Ir H Benni Warlis, saat ditemui Wartapatri.com di lokasi bencana Jum’at (28/11) dengan suaranya bergetar dan mata berkaca kaca ketika menyaksikan kondisi di lapangan.
Di antara kerumunan, ada yang masih mencari keluarga, membawa foto dengan tangan gemetar. Ada yang baru mengenali jasad tercinta setelah berhari-hari hilang. Ada pula yang hanya bisa menatap kosong, pasrah, ketika kenyataan terlalu pahit untuk diterima. Namun di tengah tangis itu, semangat gotong royong justru menjadi api kecil yang terus menjaga harapan tetap hidup.
Bencana ini adalah ujian besar. Tidak mudah. Tidak sebentar. Tetapi Sumatera Barat telah berkali-kali membuktikan bahwa di tengah amukan alam, manusia tetap berdiri bersama.
“Kita tidak akan menyerah. Kita akan terus hadir untuk mengevakuasi, mengidentifikasi, dan memastikan setiap korban mendapatkan penanganan yang layak,” tegas salah satu komandan lapangan.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan bagi setiap keluarga yang kehilangan, serta melindungi semua petugas yang berjuang di garis terdepan. Dari tanah yang porak-poranda ini, semoga bangkit kembali harapan dan ketegaran yang lebih kokoh dari sebelumnya.
Salareh Aia berduka, Sumatera Barat pun merasakannya.
Namun bersama, kita akan bangkit kembali.(Tim)












