Agam  

Hidrometeorologi Mengamuk, Nadi Infrastruktur Agam Tersendat

Agam, Wartapatroli.com – Hujan yang turun tanpa jeda dalam beberapa hari terakhir menjelma menjadi ancaman nyata bagi Kabupaten Agam. Bencana hidrometeorologi menerjang, meninggalkan jejak kerusakan pada ruas-ruas jalan dan merampas kelancaran pasokan air bersih di sejumlah kecamatan.

Banjir dan longsor silih berganti melanda wilayah Palupuh, Malalak, dan Tanjung Raya. Akses yang selama ini menjadi penghubung aktivitas warga kini porak poranda, memaksa masyarakat dan pemerintah berjibaku dalam situasi darurat.

Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam hingga Selasa (16/12), sejumlah jalur vital masih terputus dan belum sepenuhnya pulih. Tiga akses utama dilaporkan terisolasi, yakni jalan menuju Baneo Balirik di Nagari Pagadih serta Jalan Air Kijang di Nagari Nan Tujuh, Kecamatan Palupuh. Sementara itu, sebuah jembatan utama di Kecamatan Malalak tak kuasa menahan terjangan alam dan dilaporkan runtuh.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Roza Syafdefianti, mengungkapkan bahwa petugas di lapangan terus bekerja tanpa henti membuka kembali jalur yang terputus.

“Sebagian ruas jalan kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, namun kendaraan roda empat masih terbatas karena harus menggunakan jalur dan jembatan darurat,” ujarnya,

Ia menambahkan, secara umum sekitar 95 persen akses jalan telah dapat dilalui kendaraan roda dua, sementara kendaraan roda empat baru menjangkau sekitar 80 persen ruas jalan yang ada.

Tak hanya infrastruktur, bencana ini juga mengusik kebutuhan paling dasar: air bersih. Gangguan pasokan masih dirasakan warga di Tanjung Raya, Palupuh, dan Malalak. Pemerintah daerah pun bergerak cepat.

“Kami berkoordinasi dengan BPBD untuk membantu pendistribusian air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” kata Roza, menjawab Wartapatroli.com Selasa (16/12) by phon.

Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Pemerintah Kabupaten Agam mengimbau masyarakat agar tetap waspada, menjaga kesehatan, serta menghindari penggunaan air yang tidak terjamin kebersihannya demi mencegah penyakit pascabencana.

Hingga kini, upaya penanganan darurat dan pemulihan terus dilakukan secara bertahap. Di balik lumpur, reruntuhan, dan jalan yang terputus, harapan tetap dijaga bahwa Agam akan bangkit, setapak demi setapak, dari amukan alam.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *