Oleh : Yusra Wafilma
Menyimak fenomena yang terjadi di beberapa sekolah beberapa waktu belakangan ini yang disinyalir mengusik retorika dunia pendidikan, dengan mengedepankan frofesionalisme yang mendasar maka penulis terpanggil untuk sedikit mengulik fenomena ini tanpa ada rasa menjastis atau memoiokan pihak mana pun, pada kesempatan ini penulis awali dengan sebuah renungan tentang adab, ilmu, dan hati yang perlahan kehilangan cahaya
Ada masa ketika ilmu tidak hanya ditakar dari angka dan kecerdasan, tetapi dari kehalusan hati dan keberkahan yang mengiringinya. Namun kini, penulis lihat dan saksikan di banyak rumah, keberkahan itu perlahan meredup, bukan karena anak tak mampu belajar, melainkan karena denting adab yang pecah di tangan orang tuanya sendiri.
Anak adalah cermin,
ketika orang tua mencampuri terlalu jauh hubungan antara anak dan gutu disekolah dan mengimplementasikan rasa sayang terhadap anak dengan cara yang belum tentu benar, mengangkat suara dan menghardik kepada guru, meremehkan, atau bahkan menghapus wibawa pendidik di hadapan anak, sebenarnya mereka sedang menuliskan sesuatu yang lebih tajam dari nasihat, penulis rada kita semua sepakat kalau sikap ini merupakan sebuah contoh tentang bagaimana kesombongan diwariskan tanpa sengaja.
Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari salah dan khilaf kita menyadari kalau Guru tidaklah mahkluk yang sempurna, mereka bukan langit, bukan pula malaikat.
Namun mereka adalah lentera kecil yang menyalakan jalan panjang pada para murid. Tanpa penghormatan, lentera itu tetap menyala, tapi cahayanya tak lagi masuk ke hati, hanya memantul di permukaan, dingin dan hambar.
Ilmu memang dapat dipelajari,
tetapi keberkahannya hanya tumbuh di tanah yang subur oleh adab.
Dan ketika orang tua meruntuhkan penghormatan itu, tanpa sadar mereka sedang menutup jendela tempat cahaya ilmu seharusnya masuk. Anak masih belajar, masih mendengar, masih menghafal, tetapi yang hilang adalah kehalusan rasa, ketundukan hati, dan kemudahan memahami yang dulu menjadi hadiah bagi mereka yang memuliakan guru.
Hormatilah guru, bukan karena mereka tak bercela,
tapi karena dari merekalah perjalanan ilmu menemukan makna.
Sebab kadang, bukan kurangnya kepintaran yang menghalangi anak berkembang,
melainkan hilangnya berkah yang terbang bersama adab yang dipatahkan.(*)












