Agam, wartapatroli com, – Aroma kekecewaan yang mendalam menguat di berbagai kecamatan di Kabupaten Agam, Pasca Kemenangan Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Agam, Periode 2025 – 2030 Benni – Iqbal pada Pilkada Agam 2025. Keluhan ini diteriakan ratusan relawan dan relawati yang sebelumnya bekerja tanpa pamrih mengaku merasa ditinggalkan oleh pasangan yang mereka perjuangkan siang dan malam, dengan meninggalkan keluarga demi sebuah harapan.
Para relawan dan relawati dari 16 kecamatan di kabupaten Agam, menilai pasangan terpilih itu kini menunjukkan sikap yang dianggap “Angkuh dan Berjarak”, yang terkesan menjauh dari Konstituen yang dulu menjadi Tulang Punggung Kemenangan mereka.
“Janji tinggal janji, Bertemu pun tak bisa”
Sejumlah anggota tim sukses dan beberapa pemuka serta tokoh masyarakat dan pemangku adat dari beberapa kecamatan di Agam mengungkapkan kekecewaan yang sama. Mereka menyebut banyak janji kampanye yang belum terlihat realisasinya, bahkan untuk sekadar berdialog dengan pendukung pun mereka terkesan sulit dam membatasi diri.
“Kami merasa dikhianati. Jangankan merealisasikan janji-janji saat kampanye, untuk bertemu atau berkomunikasi saja tidak bisa, beberapa kali kami mencoba menghubungi mereka melalui telp dan whast up namun tidak ada jawaban. Bahkan semua kegiatan kami dipagari aturan protokoler yang terasa sengaja diperketat,” ungkap seorang koordinator relawan Agam bagian timur yang enggan identitasnya dipublikasikan .
Kerja tanpa fasilitas, dan uang jasa suara menang tanpa penghargaan
Kekecewaan juga datang dari Kecamatan Lubuk Basung. Seorang relawan mengaku mereka bekerja tanpa logistik memadai, namun memberikan hasil suara signifikan untuk pasangan tersebut.
“Kami bekerja siang malam tanpa dibiayai. Kendaraan tidak ada, uang minyak pun tidak diberi. Di Kampung Pinang ada 8 TPS, kami memenangkan 7 TPS. Tapi sekarang..? Seakan kami tak pernah ada,” ujarnya penuh kekecewaan.
Para relawan menyebut sikap ini sebagai bentuk “kacang lupa kulitnya”, karena setelah kemenangan diraih, hubungan dengan para pendukung dinilai tiba-tiba terputus.
“Kami cukup sekali disakiti”
Di berbagai kecamatan, suara serupa menggema, penyesalan sekaligus tekad untuk tidak lagi mendukung pemimpin yang dinilai tidak menghargai perjuangan akar rumput mereka.
“Mau menyesal pun tak ada gunanya. Yang ada hanya kekecewaan. Ke depan, kami sepakat tidak akan mendukung manusia yang tidak tahu berterima kasih,” ungkap Bagindo Piliang, saat dikonfirmasi wartapatroli.com, Minggu (16/11).
Menunggu klarifikasi pemerintah
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pasangan Benni – Iqbal terkait berbagai keluhan para relawan. Publik kini menunggu apakah pemerintahan baru ini akan memberikan penjelasan, membuka ruang dialog, atau justru tetap mempertahankan jarak dengan para pendukung yang dulu menjadi ujung tombak kemenangan.(Bagindo)












