Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com
Di bawah Gonjong Gedung Megah berlantai dua berdiri tepat di jantung kota lubuk Basung yang sudah 32 tahun menjadi Ibu Kota Kabupaten Agam, terdapat ruang rapat ber AC dengan deretan Kursi empuk yang seharusnya menjadi tempat lahirnya Gagasan, Keputusan, dan Inspirasi dari suara lirih rakyat. Saat jarum jam menunjukkan pukul 09.20 WIB Senin 24 November 2025 seorang anak nagari dengan plakat tergantung didada bertulisan “Yusra Wafilma” (Baca-Penulis) berdiri terpaku lirih dan pilu, melihat ruangan itu menyuguhkan Pemandangan sunyi dengan Bangku-bangku Kosong, tak berpenghuni diantara mereka yang ada bahkan Meja Pimpinan yang nyaris hanya menyisakan plakat nama tanpa raga, serta gema sepi yang mengalahkan semangat Demokrasi yang mestinya hidup dan menggeliat di sana.
Ironis, dan sangat disayangkan ketika Harga diri Anggota Dewan dan Marwah Lembaga DPRD Agam mulai dipertanyakan bukan oleh lawan politik, melainkan oleh bobroknya kuantitas “Absensi” mereka sendiri. Bolos dan sikap mangkir dari beberapa oknum anggota dewan agam yang berulang ulang bukan lagi sebuah kebiasaan buruk, namun yang telah menjelma pada koordinat Potret Buram dari Wakil Rakyat yang kehilangan rasa malu dan tanggung jawab. Paripurna demi paripurna berlalu, menyisakan jejak kursi kosong bak fatamorgana yang seolah menegur publik di daerah berambakan harimau duduk ini, “Beginikah wajah wakil mu..?”
Namun dibalik semua itu sebuah keajaiban terjadi ketika agenda bergeser menjadi Kunjungan Kerja (Baca-Kunker) ke luar daerah. Tiket yang tadinya sulit ditemukan, mendadak tersedia. Kursi Pesawat tak ada yang kosong. Anggaran yang sering diklaim terbatas dengan sebutan efisiensi, tiba-tiba longgar, lentur, dan mengalir tanpa hambatan. Istimewanya lagi pada hari gajian entah bagaimana absensi kehadiran yang biasanya tertatih tatih terpenuhi dengan rapi, lengkap tanpa ada cacat. Penulis menilai seakan ketidak hadiran di kantor bukanlah Pelanggaran, melainkan sekadar ilusi yang mudah dihapus dengan tanda tangan.
Lebih menyedihkan lagi, Badan Kehormatan (BK) Dewan yang semestinya menjadi penjaga “Marwah Lembaga”, kini seperti wayang tanpa dalang bajkan madul bak macan ompong. Diam seribu bahasa, seolah kebal terhadap Kegelisahan Publik. Padahal pada pundak merekalah Kehormatan institusi ini seharusnya bertumpu.
Maka disini muncul pertanyaan Publik yang tadak dapat dihindari
Patutkah para oknum anggota dewan yang bersembunyi di balik pangkat dan fasilitas ini tetap disebut “Wakil Rakyat”..?
Dan benarkah gaji serta berbagai tunjangan yang mereka terima setiap bulan itu halal,..? ketika kehadiran mereka lebih sering terdata di kuitansi dari pada di ruang sidang.
Dalam catatan sejarah, kehormatan jabatan lebih mahal dari pada emas, dan abai terhadap amanah adalah noda yang tak mudah dibersihkan. Namun di zaman ini, kita justru menyaksikan kelonggaran moral yang dipertontonkan para oknum anggota DPRD Agam, tanpa ragu.
Jika kursi-kursi kosong itu bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata
“Kami setia mendampingi rakyat, sayang para pemilik mandat justru berkhianati.”
Sudah saatnya masyarakat Agam menuntut perubahan, bukan dengan amarah, tetapi dengan kesadaran bahwa amanah adalah cermin martabat. Dan jika cermin itu retak, maka pantulan wajah lembaga pun ikut pudar.
Sebab marwah tak jatuh dalam sehari ia runtuh perlahan oleh kelalaian yang dibiarkan. Dan hari ini, kita sedang menyaksikan “Runtuhannya Kehormatan Lembaga DPRD Agam”, oleh segelintir oknum anggota dewan agam yang tidak amanah.(*)












