Longsor Beruntun di Palembayan “Jalan yang Runtuh dan Waktu yang Seakan Membeku”

Agam, Wartapatroli.com, – Kelok Ampang, tempat tebing-tebing lembah biasanya berdiri gagah seperti tirai alam yang menjaga perjalanan antara Palembayan dan Bukittinggi, Sabtu malam itu bumi seperti menarik napas panjang sebelum akhirnya melepaskannya dalam sebuah ambruk yang memutuskan segalanya. Tebing yang selama ini menahan tekanan air dengan luka-luka kecil yang tak terlihat mata akhirnya menyerah. Dalam satu gerakan perlahan namun pasti, badan jalan provinsi terjun ke jurang, lenyap dari peta akses masyarakat.

Namun tragedi bumi tak berhenti di situ.

Di Tanah Liek, Jorong Silungkang, Kecamatan Palembayan, hujan yang tak mengenal jeda kembali mengetuk tanah tetapi kali ini bukan sekadar ketukan, melainkan hantaman. Longsor kedua terjadi, meluncur seperti guratan kuas kelabu yang merusak kanvas kehidupan warga. Satu rumah terdampak, sebagian tertimbun, sebagian lagi tampak seperti tersenggol oleh kekuatan yang tak mungkin ditahan manusia. Jalan di titik itu lumpuh total; kendaraan hanya bisa memandang dari kejauhan, sementara tanah yang merekah seperti menolak kehadiran mereka.

Warga melaporkan bahwa sudah dua titik longsor parah dalam kurun waktu yang berdekatan. Mereka menunggu dengan cemas, berharap Pemda segera turun tangan. Di balik kecemasan itu, ada jeda sunyi yang sulit dilukiskan gabungan dari rasa takut, pasrah, dan harapan yang masih mereka sisakan pada pemerintah maupun pada langit.

“Semoga cepat ditangani, hujan masih belum selesai…” begitu catatan warga yang seakan menjadi doa dan peringatan sekaligus.

Hujan turun tanpa kesopanan musim; tebing yang rapuh tak lagi dapat bernegosiasi dengan gravitasi. Dan di antara reruntuhan tanah, warga saling menguatkan, menggantungkan hidup pada langkah-langkah penanganan yang mereka harapkan datang secepat tanah itu jatuh.

Dalam tragedi alam ini, investigasi kami menemukan satu benang merah:
tanda-tanda kecil keretakan, aliran air yang lama tertahan, drainase yang tak bekerja optimal, serta curah hujan ekstrem yang memaksa alam mengembalikan keseimbangannya dengan cara yang paling keras.

Kini, Palembayan menunggu seperti alunan musik yang tertahan di nada tinggi berharap tindakan cepat pemerintah dapat memulihkan akses, menstabilkan tebing, dan mengembalikan ritme kehidupan yang tersendat.

Di tengah segala kerusakan, satu harapan masih ditinggalkan oleh warga, semoga kita semua tetap dalam lindungan – Nya, dan semoga hujan segera selesai menulis babak kelam ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *