Agam  

Longsor Putuskan Kelok Ampang Warga Terisolasi, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Agam, Wartapatroli.com, – Derasnya curah hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Palembayan dalam beberapa hari terakhir kembali menunjukkan rapuhnya infrastruktur pada jalur vital Provinsi penghubung Palembayan–Bukittinggi. Di Kelok Ampang, tebing yang tak lagi kuat menahan tekanan air akhirnya runtuh, membawa badan jalan provinsi terjun ke jurang dan memutus total akses masyarakat.

Jalan yang biasanya ramai dilalui oleh kendaraan warga kini berubah menjadi kanvas alam yang kacau, garis retakan tanah, dan siluet pepohonan tumbang yang seakan melukis potret ketidak berdayaan.

Beruntung, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa ataupun luka. Namun, keselamatan tetap menjadi kekhawatiran utama. Para pengendara roda dua diminta berhati-hati dan menunda perjalanan jika tidak mendesak, sementara masyarakat di sekitar lokasi terus berjaga-jaga menghadapi kemungkinan longsor susulan.

Di balik kekacauan itu, suara masyarakat mengalun lirih namun tegas. Mereka berharap pemerintah daerah provinsi sumatera barat tidak hanya hadir setelah bencana memutus jalan, tetapi juga sebelum itu terjadi. “Kami berharap ada tindakan cepat, minimal solusi alternatif jangka panjangnya perbaikan,” ungkap salah seorang warga. Saat ditemui Wartapatroli.com dilokasi lonsor Minggu (23/11) “Akses kami lumpuh total. Ini bukan pertama, dan mungkin bukan terakhir.”

Longsor di Kelok Ampang ini seakan menjadi pengingat keras bahwa alam selalu memberi tanda sayangnya, manusia sering terlambat membaca. Ketika hujan bekerja tanpa jeda, tanah yang lelah pun menyerah. Infrastruktur yang semestinya menjadi nadi kehidupan masyarakat justru tak jarang tumbang lebih cepat daripada pohon-pohon yang mengiringinya.

Kini, masyarakat palembayan menunggu, berharap pemerintah tidak hanya datang membawa kamera dan catatan, tetapi juga solusi nyata penguatan tebing, sistem drainase memadai, dan penanganan cepat yang tidak sekadar pemadam kebakaran musiman.

Sebab jalan itu bukan sekadar aspal dan tanah  ia adalah denyut hidup warga Palembayan. Dan ketika denyut itu terputus, kehidupan pun ikut terseok.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *