Agam  

Lubuk Basung Krisis Air Bersih, Perundam Tirta Antokan Tak Ada Solusi.

Agam, Wartapatroli.com
Lubuk Basung meski tak tercatat sebagai korban utama banjir bandang dan galodo yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Kabupaten Agam. Rumah tak hanyut, nyawa tak melayang, dan akses jalan yang sempat terputus akibat longsor pun cepat kembali terbuka. Namun di balik wajah yang tampak aman itu, Lubuk Basung justru digerogoti bencana lain sunyi, perlahan, dan nyaris tak terlihat krisis air bersih.

Di Nagari Garagahan, dan Kampung Pinang, serta sejumlah nagari lainnya, air bersih mendadak menjadi barang mewah. Keran-keran di rumah warga kering kerontang. Tempat ibadah kehilangan sumber wudhu. Fasilitas umum hanya menyisakan bak-bak kosong dan harapan yang menipis.

Sudah berminggu-minggu air PDAM Tirta Antokan tak mengalir normal. Air sempat hadir sesaat mengalir sebentar lalu kembali lenyap. Datang seperti tamu tak diundang, pergi tanpa pamit, dan tak meninggalkan kepastian.

Bagi warga, air bukan sekadar layanan. Ia adalah denyut kehidupan. Saat air menghilang, dapur kehilangan asap, kamar mandi kehilangan fungsi, cucian menumpuk, dan kebersihan lingkungan terancam. Aktivitas rumah tangga lumpuh perlahan, sementara keresahan tumbuh tanpa jawaban.

Pertanyaan demi pertanyaan mengemuka di tengah masyarakat.
Apa yang sebenarnya terjadi di tubuh PDAM Tirta Antokan?
Apakah jaringan pipa rusak parah?
Distribusi air bermasalah?
Atau ada persoalan teknis dan manajerial yang sengaja ditutup rapat dari publik?

Kecurigaan warga bukan tanpa alasan. Sejak pergantian pimpinan dan Badan Pengawas PDAM Tirta Antokan, gangguan pasokan air dinilai kian sering terjadi dan berulang. Keluhan masyarakat meningkat, namun solusi konkret tak kunjung dirasakan. Yang terdengar justru sunyi, sunyi dari penjelasan, sunyi dari tanggung jawab.

Nada kecewa itu disampaikan tegas oleh seorang tokoh masyarakat Kampung Pinang, Bagindo Piliang, saat ditemui Wartapatroli.com, Minggu (14/12).

“Direktur dan pengawas PDAM Tirta Antokan, kalau memang tidak mampu, lebih baik mundur saja. Jangan hanya jadi tampang nama, duduk enak di belakang meja dengan segala fasilitas. Masih banyak putra daerah yang mau dan mampu mengisi jabatan itu,” ujarnya tanpa basa-basi.

Menurutnya, meski terdapat kendala di beberapa titik sumber air, semestinya manajemen PDAM hadir dengan solusi darurat dan langkah nyata, bukan membiarkan masyarakat bertahan dengan ember, jeriken, dan sumur seadanya.

Kini harapan warga tertuju pada Bupati Agam. Mereka meminta evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pimpinan dan badan pengawas PDAM Tirta Antokan yang dinilai tidak profesional dan tak menguasai bidangnya. Air bersih adalah hak dasar rakyat, bukan hadiah yang datang sesekali.

Lubuk Basung mungkin selamat dari galodo yang mengamuk di permukaan. Namun tanpa air, kota ini tengah mengalami kekeringan yang jauh lebih berbahaya kekeringan kepercayaan, warga berharap Bupati Agam Ir H Benni Warlis, melakukan kaji ulang terkait kinerja manajemen perundan Tirta Antokan yang dianggap tidak berpihak dan profesionalisme.

Sampai berita ini diturunkan tidak ada pihak terkait yang bisa dihubungi untuk kepentingan konfirmasi terkait penjelasan atau klarifikasi resmi, kita berharap semoga krisis air bersih ini cepat berlalu.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *