Agam  

Malalak Gelap Gulita, “Ketika Banjir Bandang Menyisakan Sunyi dan Luka”

Agam, Wartapatroli.com, – Di balik hening malam yang dibasahi hujan, Malalak menjelma menjadi sebuah wilayah yang terputus dari dunia. Tiga hari berturut-turut, hujan lebat turun bagai tirai air yang tak kunjung tersibak, memicu longsor demi longsor, banjir bandang demi banjir bandang. Dan pada Rabu (26/11) sore, di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, bencana itu mencapai puncaknya.

Jaringan listrik padam, sinyal telepon hilang, dan jalur komunikasi seolah lenyap ditelan gulungan kabut dan material longsor. Malalak gelap gulita secara harfiah, juga secara rasa.
Masyarakat, para perantau, bahkan insan media, hanya bisa menanti kabar yang tak kunjung tiba. Seakan Malalak tenggelam dalam sunyi yang panjang.

Jalan-jalan Tertutup, Harapan Tertahan

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa seluruh akses menuju Malalak lumpuh. Jalur dari Balingka putus, dari Sungai Geringging tertimbun longsor.
Satu-satunya pintu masuk hanyalah jalur Sicincin Tandikek di Kabupaten Padang Pariaman itu pun harus ditembus dengan kewaspadaan tinggi karena ancaman longsor masih mengintai.

Kecamatan Malalak kini benar-benar terisolasi:
bukan hanya dari dunia luar, tetapi juga dari aliran listrik, komunikasi, dan kebutuhan paling dasar yang biasanya mengalir tanpa hambatan.

Rumah-rumah Tertimbun, Sarana Vital Terkoyak

Banjir bandang yang menerjang Jorong Toboh membawa serta batu-batu besar, lumpur pekat, dan kayu-kayu liar yang menyeret apa saja yang dilaluinya.
Rumah warga rusak, irigasi lumpuh, dan tiang-tiang listrik tumbang berserakan seperti pasukan yang gugur dalam pertempuran.

Malalak bukan sekadar gelap; ia seperti sebuah desa yang menarik napas panjang dalam duka.

Kabar Korban: Antara Kepastian dan Kekhawatiran

Di tengah hujan yang tak juga reda, kabar mengenai korban bermunculan terdengar lirih, tak sepenuhnya dapat dipastikan.
Namun satu hal jelas: ada banyak luka, banyak kehilangan, dan kemungkinan korban jiwa.

“Kami belum mendapatkan informasi resmi. Semua akses komunikasi terputus, listrik padam sejak beberapa hari lalu,” ujar Kepala Bidang Kerjasama Informasi Diskominfo Agam, Eki Marlida, kepada Wartapatroli.com lewat sambungan telepon yang sesekali terdengar patah-patah.

Tim Bergerak Menembus Malam

Pemerintah Daerah Kabupaten Agam segera mengirim tim awal yang dipimpin Kalaksa BPBD Agam, Rahmad Lasmono. Namun, konfirmasi dengan beliau pun terputus barangkali ia pun kini berada di tengah sunyi Malalak tanpa jaringan komunikasi.

Tak ingin waktu terbuang, Eki Marlinda bersama tim Diskominfo Agam berangkat pada Rabu malam melalui jalur Sicincin. Mereka membawa perangkat komunikasi dan perlengkapan teknis, berharap dapat kembali membuka pintu informasi yang kini terkunci.

“Kami sedang menuju Malalak. Doakan kami selamat dan bisa segera menyampaikan kabar dari sana,” tutur Eki sebelum menutup telepon dengan salam yang terasa lebih berat dari biasanya.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *