Agam, Wartapatroli.com —
Deru alam belum juga mereda di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Bencana hidrometeorologi 2025 terus meninggalkan jejak luka, seiring rangkaian banjir bandang dan longsor susulan yang kembali mengguncang sejumlah wilayah. Di antara kawasan yang paling merasakan getirnya amukan alam, Nagari Maninjau dan Sungai Batang berdiri dalam keterisolasian, dengan akses yang hingga kini belum sepenuhnya dapat ditembus.
Di tengah keterbatasan itu, semangat gotong royong tetap menyala. Masyarakat setempat bahu-membahu bersama tim gabungan TNI–Polri dan para relawan, mendirikan jembatan darurat sebagai nadi penghubung Maninjau–Bancah dan beberapa titik vital lainnya. Jembatan sederhana itu menjadi simbol harapan, di tengah kepungan lumpur, batu, dan puing yang menghalangi langkah.
Namun, tantangan di lapangan kian berat. Curah hujan yang masih tinggi terus memicu ancaman baru. Selasa malam (15/12), banjir bandang kembali menerjang Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang. Dua rumah warga tak kuasa menahan derasnya arus, hanyut terseret gelombang air bercampur material lumpur dan bebatuan.
Para tokoh masyarakat pun angkat suara. Mereka menilai, untuk mengurangi risiko banjir bandang dan longsor susulan, langkah antisipasi harus segera dilakukan, terutama pengerukan aliran sungai yang berubah jalur akibat tertimbun material longsor dan banjir bandang, baik di wilayah Jorong Bancah maupun Sungai Batang.
“Aliran sungai kini tertutup material. Jika tidak segera dikeruk, ancaman bencana susulan akan terus menghantui warga,” ujar Rudi Yudistira, tokoh masyarakat setempat, kepada Wartapatroli.com, Rabu (16/12).
Warga pun berharap adanya tambahan pasokan alat berat. Setidaknya, tiga unit alat berat tambahan dibutuhkan di Nagari Maninjau dan Sungai Batang untuk mempercepat pembersihan material yang menutup aliran sungai, badan jalan, hingga pemukiman warga.
Harapan itu, menurut Rudi, telah disampaikan kepada pihak terkait. Kegelisahan warga kian memuncak, seiring hujan yang belum menunjukkan tanda reda. Beberapa kali bencana susulan telah terjadi, menjadi pengingat bahwa alam masih menyimpan potensi ancaman, sementara masyarakat hanya bisa bertahan, berharap, dan terus berjuang di tengah keterbatasan.(Bagindo)












