Agam  

Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan Agam: Saatnya Keluarga, Lingkungan, dan Sekolah Bergerak Bersama

Oleh: Yaldi Antoni, S.Pd Guru SD Negeri 55 Batang Piarau

Oleh: Yaldi Antoni, S.Pd

Guru SD Negeri 55 Batang Piarau

Kabupaten Agam adalah tanah yang subur. Bukan saja untuk pertanian dan kebudayaan, tetapi juga sebagai rahim yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa. Dari Abdul Muis, Haji Agus Salim, Rasuna Said, Buya Hamka, Adnan Kapau Gani, Mr. Assaat, Dt. Mudo, hingga Syekh Sulaiman Arrasuli. Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan cermin betapa kecerdasan, keberanian, dan keteguhan akhlak mampu menggerakkan perubahan besar.

Warisan intelektual dan moral tokoh-tokoh inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi masyarakat Agam hari ini, khususnya dalam memajukan dunia pendidikan yang kian penuh tantangan.

Di tengah dinamika itu, hadir generasi muda yang kini dipercaya memimpin sektor pendidikan daerah. Dua sosok, Kabid Pembinaan SD Fadli S. S.Pd., M.Pd. dan Kabid Pembinaan SMP Deputra Ariandi,S.Pd.M.Pd, membawa perspektif segar, energi kuat, dan komitmen untuk mempercepat transformasi pendidikan Agam. Publik tentu menyimpan harapan besar bahwa kepemimpinan mereka mampu menghadirkan perubahan nyata dan berkelanjutan.

Pendidikan: Pondasi Peradaban yang Tidak Bisa Ditawar

Kita sering mengulang bahwa pendidikan adalah tiang peradaban, dan itu benar adanya. Tidak ada bangsa maju yang tumbuh dari masyarakat yang mengabaikan pengetahuan. Pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan komitmen serius, mulai dari peningkatan anggaran, penyempurnaan kurikulum, penguatan literasi digital, hingga naiknya Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru non-ASN dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta.

Namun, ada aspek lain yang sering luput dari pembahasan:

Tanpa peran keluarga dan lingkungan, sehebat apa pun sekolah bekerja, hasil pendidikan tidak akan maksimal.

Para ahli menyebut. 50% keberhasilan pendidikan anak ditentukan keluarga, 25% lingkungan, dan 25% sekolah.

Artinya, sekolah meski lengkap fasilitas dan hebat gurunya, tidak bisa memikul seluruh beban pendidikan anak.

Menjelang Hari Guru Nasional: Saatnya Orang Tua Berkaca

Setiap 25 November kita memperingati Hari Guru Nasional. Biasanya ucapan terima kasih mengalir kepada guru. Itu penting, tetapi ada refleksi yang tidak boleh kita abaikan, yaitu peran orang tua dalam pendidikan anak.

Masih banyak orang tua yang menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada guru, seolah guru adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Padahal guru hanya bertemu anak beberapa jam per hari. Sisanya, anak berada di rumah, lingkungan yang jauh lebih kuat membentuk karakter.

Pertanyaannya , Sudahkah kita sebagai orang tua benar-benar hadir?

Mendidik bukan sekadar menyuruh belajar, tetapi memberi teladan.Jika ingin anak disiplin, orang tua harus menunjukkan disiplin. Jika ingin anak suka membaca, rumah harus bernapaskan literasi.

Jika ingin anak berakhlak baik, orang tua harus menunjukkan akhlak baik itu setiap hari.

Anak belajar bukan dari ceramah, tetapi dari apa yang ia lihat. Lingkungan adalah Kurikulum Tak Tertulis yang Menentukan Masa Depan

Selain keluarga, lingkungan sekitar juga memainkan peran yang tidak kalah besar. Nilai, bahasa, dan perilaku yang hadir di sekitar anak, tanpa disadari, membentuk diri mereka. Lingkungan yang keras akan membentuk anak yang keras.

Lingkungan yang ramah akan membentuk anak yang santun dan percaya diri.

Setiap orang dewasa, tetangga, pedagang, tokoh masyarakat, hingga teman sepermainan, sesungguhnya adalah pendidik tanpa gelar.

Karena itu, pembangunan pendidikan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai urusan sekolah, tetapi kerja kolektif seluruh masyarakat. Membenahi Pendidikan Agam Kolaborasi yang Tidak Boleh Pincang

Kurikulum baru tidak akan berarti jika keluarga tidak menjalankan fungsinya.

Fasilitas lengkap tidak berguna jika lingkungan tidak mendukung perkembangan anak.

Kesejahteraan guru tidak cukup jika karakter anak rusak di luar sekolah. Negara bergerak.

Sekolah berusaha keras. Guru telah mengorbankan waktu dan tenaga.

Kini giliran keluarga dan masyarakat untuk menjalankan peran yang selama ini kerap terabaikan.

Pendidikan dimulai dari rumah, diperkuat oleh lingkungan, dan diperkaya oleh guru.

Jika ketiga unsur ini berjalan harmonis, Agam bukan hanya mempertahankan tradisi melahirkan tokoh-tokoh besar, tetapi juga melahirkan generasi baru yang lebih siap menjawab tantangan zaman.

Masa depan Agam, dan Indonesia, tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi oleh komitmen masyarakatnya dalam menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *