Agam, Wartapatroli.com, – Di antara gemuruh alam yang baru saja mereda, Kabupaten Agam masih berdiri dengan dada penuh luka, menghitung satu per satu jejak kehilangan yang ditinggalkan bencana Hidrometeorologi Desember 2025. Angka kerugian sementara kini telah menembus Rp863,7 Miliar, dan setiap laporan baru yang masuk seperti menambah gores pada catatan duka yang belum kering. Para petugas meyakini, total kerusakan di 13 kecamatan di Agam yang terdampak bisa melampaui Rp1 Triliun, mengingat luasnya kawasan yang remuk-redam jalan dan jembatan tercabut, saluran irigasi tersumbat lumpur, hamparan sawah dan kebun tinggal jejak samar di bawah endapan galodo.
Namun yang paling menggetarkan hati tetaplah hitungan nyawa, yang didapat Wartapatroli.com,
Hingga Jumat (12/12), 192 korban meninggal dunia belum berubah. Dari jumlah itu, 27 jiwa masih belum dikenali, sementara angka terbanyak berasal dari Kecamatan Palembayan, yang seperti menanggung beban luka paling dalam 138 orang. Sisanya tersebar di Malalak (14), Tanjung Raya (10), Matur (1), Palupuah (1), dan Ampek Nagari (1).
Ada pula mereka yang hingga kini masih hilang 72 insan, yang setiap hurufnya tengah ditunggu pulang oleh keluarga.
Mayoritas berada di Palembayan, 66 orang, disusul Malalak (3), Tanjung Raya (2), dan Lubukbasung (1). Tim gabungan terus meraba setiap alur sungai, setiap kubang lumpur, setiap serpihan hutan yang runtuh, berharap satu per satu kembali ditemukan, meski waktu terus menipis dan cuaca kerap menantang.
“Proses pencarian terus berlanjut…” tutur Kalaksa BPBD Agam, Rahmad Lasmono, pada Wartapatroli.com, Jum’at (12/12) dengan suara yang menyiratkan tekad dan kelelahan yang sama-sama tak dapat disembunyikan.
Di lapangan, deru alat berat bercampur dengan isak tertahan para penyintas. Setiap hari, tim gabungan berjuang membuka isolasi yang memutus jorong dari dunia luar, membersihkan material yang menenggelamkan rumah dan ladang, menyalurkan bantuan untuk mereka yang masih menggigil di pengungsian, serta membangun hunian sementara tempat bagi mereka menambatkan harapan yang sempat hanyut.
Di sela puing dan lumpur, Agam perlahan kembali berdiri.
Dengan tangan-tangan yang bekerja tanpa jeda, dan doa yang tak henti melangit, kabupaten ini mencoba menganyam kembali kehidupan meski benang-benang kesedihan masih kuat terasa, meski angin masih membawa bau tanah longsor.
Karena setelah bencana pergi, yang tersisa bukan hanya kerusakan,
tetapi juga keberanian untuk bangkit, dan cerita manusia yang tetap memilih berharap.(Bagindo)












