Agam  

Opini: Di Balik Deru Banjir Agam, Jangan Biarkan Nurani Kita Tenggelam

Oleh : Enrizal Tanjung

Bencana yang menimpa Kabupaten Agam bukan hanya meruntuhkan bangunan, ia meruntuhkan dunia kecil yang dibangun warga dengan penuh cinta dan kerja keras. Dalam sekejap, air bah menghanyutkan bukan hanya tembok dan perabotan, tetapi juga harapan, ingatan, dan rasa aman yang selama ini menjadi pegangan hidup. Yang tersisa hanyalah sunyi, lumpur, dan tatapan kosong yang sulit diceritakan dengan kata-kata.

Dalam satu momen pendampingan bersama Alumni SMA Negeri 2 Lubuk Basung, penulis mendengar sebuah kisah yang membuat dada terasa sesak. Seorang ibu, yang bahkan untuk berdiri pun masih gemetar karena syok, bercerita bahwa rumahnya, yang sudah luluh lantak, masih dijarah oleh manusia lain. Puluhan juta rupiah yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, hilang begitu saja. Bukan karena arus deras, tetapi karena kerakusan manusia yang nekat mengulurkan tangan ke reruntuhan keluarganya.

Bayangkan betapa sakitnya. Ketika seseorang menahan tangis di depan puing-puing kehidupannya, ketika ia tak lagi punya tempat untuk pulang, ketika ia bahkan tak tahu apa yang akan dimakan esok hari, justru ada yang datang untuk menambah luka. Di titik paling rapuh, ia masih harus menghadapi kejahatan yang lahir dari hati yang mengeras.

Inilah wajah lain dari bencana yang lebih pahit dari pada lumpur, lebih menusuk dari pada dingin malam. Kadang, manusia bukan hanya korban, tetapi juga pelaku yang menambah berat derita sesamanya.

Karena itu, mari kita bertanya pada diri sendiri. Apakah kemanusiaan kita hanya hidup ketika situasi aman?.

Apakah empati kita hanya bekerja ketika kita tidak mendapat kesempatan untuk meraih keuntungan? Sudah sedalam apa hati kita memaknai arti peduli?

Kita memang tidak dapat menghentikan curah hujan yang turun dari langit. Kita tidak mampu menahan gunung agar tidak longsor. Tetapi satu hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita: jangan pernah menjadi bagian dari luka itu. Jangan menjadi alasan baru bagi seseorang untuk menangis di atas tangisnya sendiri.

Firman Allah telah mengingatkan kita dengan sangat jelas, bahwa mengambil hak orang lain, terlebih dalam kondisi mereka sedang berduka, adalah kedzaliman yang tidak akan membawa berkah apa pun.

QS. Al-Baqarah: 188

“Dan janganlah kamu memakan harta sesama manusia dengan cara yang batil…”

Termasuk di dalamnya: menyelewengkan bantuan, mengambil jatah korban bencana, memanipulasi pendataan, atau memanfaatkan situasi darurat demi keuntungan pribadi. Segala bentuk kelicikan itu bukan hanya dosa sosial, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah kemanusiaan.

Bencana ini menguji bukan hanya fisik kita, tetapi juga akhlak kita. Ia menguji kejujuran relawan. Ia menguji ketulusan lembaga pengelola donasi. Ia menguji integritas aparat. Ia menguji kesetiaan kita pada nurani.

Di balik setiap karung beras yang dibagikan, setiap selimut yang disalurkan, setiap rupiah yang dikumpulkan, ada doa-doa dari mereka yang kehilangan segalanya. Jangan biarkan niat suci para dermawan ternoda oleh tangan-tangan yang bermain dalam gelap. Bantuan bukan sekadar barang—ia adalah harapan. Dan mengkhianati harapan adalah bentuk luka yang lebih pedih daripada bencana itu sendiri.

Hari ini, mungkin kita menjadi penolong. Tapi hidup tidak pernah menjamin posisi itu akan abadi. Kita tidak tahu kapan giliran kita berdiri di titik terlemah, memohon uluran tangan orang lain. Karena itu, jagalah kemanusiaan kita sekuat mungkin—sebelum bencana berikutnya datang mengetuk pintu siapa pun di antara kita.

Di tengah gelapnya duka Agam, biarlah kita menjadi cahaya kecil yang tetap menyala. Biarlah kita menjadi alasan seseorang kembali percaya kepada kebaikan. Dan biarlah kita menjadi bagian dari pemulihan, bukan penyebab luka baru.

Semoga hati kita tetap hidup, bahkan ketika alam sedang marah. Semoga empati kita tetap hangat, bahkan ketika rumah-rumah telah hancur diterjang banjir. Dan semoga kemanusiaan kita tidak pernah ikut tenggelam—walau air bah telah menenggelamkan segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *