Agam  

“Orkesrta Semu PGRI Agam, di Aula Kubang Putiah”

  1. Oleh : Yusra Wafilma
    Pemred Watapatroli.com

Di sebuah Aula bernama UIN Syech Jambek Kubang Putiah,
tanggal 18 November 2025 segera disulap dan menjelma menjadi panggung besar oleh PGRI Agam,
Yang mana akan menjadi barisan tempat para guru duduk rapi seperti daun-daun yang tertiup “Angin Perintah” yang katanya tidak datang dari mana-mana.

PGRI Agam menggelar seminar, sebuah perhelatan yang dibungkus wangi kata “Sukarela,”
namun aromanya tak sepenuhnya menyerupai bunga liar di tepi hutan, namun lebih mirip dengan rangkaian bunga plastik yang harum hanya saat difoto.

Dalam sebuah ritme konfirmasi para pemburu warta sang nahkoda fatamorgana (Plt-red) Andrinaldi, berdiri menghela kata,
bersumpah bahwa kegiatan ini bersih dari paksaan,
bening dari urusan kedinasan,
jernih seperti air di dasar sumur tua.

Tetapi publik, yang matanya sudah diasah oleh ratusan janji kosong,
menatap dengan tatapan bak burung hantu,
tenang, tajam, dan tak mudah dibohongi cahaya.

Mereka bertanya,
dengan suara yang pelan namun menggema sampai ke tepi nagari,

Dari mana datangnya angka seragam Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu) itu..?
Apakah ia tumbuh dari pohon uang..?
Atau jatuh dari langit seperti hujan yang tiba-tiba..?

Jika bukan dari dana BOS,
mengapa bayang-bayang BOS berdiri di belakangnya seperti sosok yang tak mau pergi..?
Jika bukan pungutan,
mengapa ia terasa seperti getah yang lengket di tangan-tangan guru..?

Dan hari itu , hari kerja ,
adalah hari ketika seharusnya papan tulis dipenuhi huruf,
namun justru dipenuhi sunyi.
Kelas-kelas menjadi hutan bambu tanpa angin,
murid-murid seperti perahu tanpa pendayung.

Sementara itu, Plt Kadis Pendidikan, kabupaten Agam, Andrinaldi,
yang diharapkan hadir sebagai matahari penjelas,
malah memilih menjadi bulan sabit,
terlihat tapi tak pernah utuh.
Pesan WhatsApp dibiarkan mengambang seperti perahu kecil kehilangan dermaga.

Publik pun mulai menulis puisi protesnya sendiri,

“Jika seminar ini murni, mengapa airnya keruh..?
Jika tak ada paksaan, mengapa langkah guru terdengar serempak..?
Jika tak memakai dana sekolah, mengapa angkanya seragam, seolah dicetak di pabrik..?”

Pertanyaan itu bukan peluru,
hanya cermin.
Dan dalam cermin itu,
terpantul wajah sebuah kegiatan
yang berdiri di antara dua dunia,
dunia formalitas dan dunia kejujuran.

Seminar ini mungkin memang agenda profesi,
mungkin memang ruang ilmiah yang berniat baik.
Tapi ketika keheningan pejabat lebih bising dari suara klarifikasi,
dan ketika biaya lebih keras suaranya dibanding substansi,
maka masyarakat pun berhak meraba-raba gelapnya.

Hingga berita ini dirangkai,
jawaban belum juga turun ke bumi.
Ia masih mengapung di awan,
bersama harapan tentang birokrasi yang lebih bersih,
dan kerinduan akan pemimpin yang berani menyentuh akar persoalan,
bukan sekadar memetik daunnya.

Dan pada akhirnya,
publik hanya ingin satu hal yang sangat sederhana,

sebuah kejujuran yang tidak ditaruh di panggung,
tapi ditanam di hati.(Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *