Agam  

Pasca Galodo Palembayan, Kampuang Tangah Timur Gelap Gulita 18 Hari Tak Ada Penerangan

Agam, Wartapatroli.com –
Delapan belas hari sudah berlalu sejak banjir bandang (galodo-red) meluluhlantakkan Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Namun hingga Minggu (14/12), kegelapan masih setia menyelimuti Jorong Kampuang Tangah Timur, Nagari Salareh Aia Utara. Bukan kegelapan biasa melainkan gelap yang lahir dari terputusnya aliran listrik, dari terhentinya denyut kehidupan.

Lebih dari 100 kepala keluarga yang bermukim di jorong itu masih hidup dalam keterbatasan total. Malam datang tanpa cahaya, aktivitas lumpuh, dan rasa aman perlahan terkikis. Ironisnya, kawasan ini justru termasuk salah satu wilayah yang paling parah diterjang galodo pada Kamis (27/11) lalu.

Di saat wilayah lain mulai bangkit perlahan, Kampuang Tangah Timur masih terjebak dalam sunyi. Seakan terlewat dari daftar prioritas pemulihan.

Anggota DPRD Agam Fraksi PAN, Zulpardi, menyebut kondisi ini sebagai situasi yang sangat memprihatinkan. Kepada Wartapatroli.com, Minggu (14/12), ia mengungkapkan keprihatinannya atas lambannya pemulihan jaringan listrik di wilayah tersebut.

“Pasca bencana yang merenggut lebih dari 154 nyawa dan menyisakan 66 orang yang masih dinyatakan hilang, seharusnya tidak ada lagi alasan untuk membiarkan warga hidup dalam gelap,” ujarnya.

Menurut Zulpardi, berbagai upaya memang telah dilakukan oleh tim tanggap darurat Kabupaten Agam, termasuk oleh PT PLN. Namun fakta di lapangan menunjukkan, perbaikan jaringan belum sepenuhnya tuntas. Kampuang Tangah Timur masih padam total 18 hari tanpa listrik, tanpa kepastian.

“Kampuang Tangah Timur saat ini benar-benar seperti perkampungan sunyi. Gelap gulita, nyaris tanpa aktivitas. Warga yang sudah trauma bencana, kini kembali dihantui ketakutan, apalagi saat hujan turun. Mereka hidup dalam waswas, tanpa penerangan, tanpa rasa aman,” ungkap Zulpardi, legislator asal Palembayan itu.

Kondisi tersebut, kata dia, telah dilaporkan kepada pihak-pihak terkait, termasuk kepada Bupati Agam. Namun hingga kini, percepatan penanganan khususnya pemulihan aliran listrik belum juga dirasakan warga.

Di tengah duka yang belum kering, listrik bukan sekadar cahaya. Ia adalah simbol kehadiran negara, tanda bahwa warga tidak ditinggalkan sendirian menghadapi bencana. Ketika listrik tak kunjung menyala, pertanyaannya menjadi lebih besar:
apakah pemulihan benar-benar merata, atau ada wilayah yang luput dari perhatian?

Kampuang Tangah Timur masih menunggu.
Menunggu cahaya.
Menunggu kepastian.
Menunggu negara benar-benar hadir.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *