Agam, Wartapatroli.com, – Di antara perbukitan yang masih menyimpan jejak basah hujan dan jalan-jalan yang terluka oleh bencana, Pemerintah Kabupaten Agam kembali menorehkan hadirnya kepedulian. Pada Minggu (7/12), melalui Dinas Sosial, rombongan bantuan logistik bergerak menuju Nagari Sipinang sebuah perjalanan yang bukan hanya membawa bahan pangan, tetapi juga harapan bagi ratusan warga yang terdampak keterbatasan akses.
Dengan langkah penuh dedikasi, Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Hasneril, bersama Sekabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, memimpin penyaluran paket bantuan yang terdiri dari 1 ton beras, mi instan, susu anak, telur, makanan siap saji, dan sarden. Semua ini diperuntukkan bagi 350 kepala keluarga yang tengah berjuang melewati masa sulit di nagari tersebut.
Di balik geliat penyaluran bantuan, ada semangat yang terasa seperti denyut lembut di tengah sunyi perkampungan semangat bahwa pemerintah tidak meninggalkan rakyatnya ketika akses terputus, dan ketika darurat mengetuk dari berbagai penjuru.
“Kami berupaya memastikan setiap bantuan benar-benar sampai. Akses mungkin sulit, medan mungkin menantang, tetapi kebutuhan masyarakat jauh lebih penting untuk kami dahulukan,” ujar Hasneril, dengan ketegasan yang diwarnai empati, menjawab Wartapatroli.com Rabu (10/12)
Ucapan itu bukan sekadar kata, melainkan nyata dalam langkah mereka yang harus memutar melalui Jalan Malapah, menyusuri jalur yang tak selalu ramah. Jalur utama di Salareh Aia sendiri baru dapat dibuka kembali sore harinya. Namun seperti arus sungai yang tak pernah berhenti mengalir, bantuan pun tiba tepat di pangkuan warga yang menunggu.
Sekretaris Nagari Sipinang, Rafles, berdiri mewakili suara masyarakat, menyampaikan rasa terima kasih yang mengalir tulus.
“Bantuan ini ibarat cahaya di tengah mendung yang belum sepenuhnya pergi. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Agam, khususnya Bupati dan Dinas Sosial, yang telah peduli dan menempuh perjalanan berat demi kami,” ucapnya.
Dalam suasana yang masih diliputi pemulihan, bantuan ini menjadi langkah kecil namun berarti seperti sulur harapan yang kembali tumbuh di tanah yang sempat diterjang bencana. Pemerintah nagari berharap, setidaknya, kebutuhan masyarakat dapat terbantu hingga akses pulih, dan kehidupan perlahan menemukan ritmenya kembali.
Di Sipinang, hari itu bukan sekadar penyaluran logistik. Ia adalah catatan tentang rasa, kepedulian, dan komitmen ditulis dengan tinta kemanusiaan dan sentuhan seni yang lahir dari ketulusan.(Bagindo)












