Agam, Wartapatroli.com —
Di sebuah rumah sederhana di Perumnas Pinang Agam Permai Kampung Pinang, Lubuk Basung, Sabtu (6/12), suasana haru menyelimuti ruang tamu tempat Rahmi Wiristya (37) duduk bersandar pelan. Perempuan yang masih berjuang berdiri setelah kecelakaan kerja itu kembali menjadi pusat kepedulian kali ini tidak hanya dari pemerintah daerah dan para dermawan yang datang membawa perhatian, doa, dan bantuan.
Rahmi, tenaga harian lepas (THL) Dinas Pertanian Agam, selamat dari ganasnya terjangan galodo yang menggulung rumahnya di Salareh Aia, Palembayan. Keselamatannya, dengan kondisi kaki yang masih belum mampu menopang tubuh, adalah kisah yang meninggalkan getar panjang di dada siapa pun yang mendengarnya.
Ir. Arief Restu, M.Si, Kepala Dinas Pertanian Agam, bersama Helton, SH, M.Si, Kepala Bappenda Agam, hadir mewakili Pemerintah Daerah. Mereka duduk di samping Rahmi, seolah ingin memastikan sendiri bahwa perempuan itu tidak berjalan sendirian melewati masa paling kelam dalam hidupnya.
“Beliau adalah keluarga besar Dinas Pertanian. Kita tidak bisa membiarkan beliau berjuang sendirian,” ujar Arief dengan nada yang meneduhkan, saat menjawab Wartapatroli.com Sabtu (6/12)
Dalam kunjungan itu, tangan-tangan penuh empati mengulurkan bantuan.
Salah satunya Owner Hotel Sakura Syariah Lubuk Basung, H. Isman Tanjung, berikan bantuan dalam bentuk uang tunai Rp 5 juta untuk pemulihan Rahmi dan dua anaknya, ditambahkan Dinas Pertanian Agam Rp 2 juta, disusul LA Community yang membawa satu paket sembako. Sementara Pemkab Agam memberikan kasur baru, beras, susu, minyak goreng, dan mi instan sejumlah kebutuhan dasar untuk menguatkan langkah Rahmi memulai kembali hidup yang patah.
Rahmi terdiam lama. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya berusaha tersenyum.
“Saya berterima kasih… saya tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuan ini,” ujarnya lirih, menahan getaran suara.
Tak jauh di sampingnya, dua putranya Abdi (7) dan Asraf (5) menatap tamu-tamu yang datang dengan polos, belum sepenuhnya memahami bahwa dunia kecil mereka kini berubah selamanya.
Air mata Rahmi akhirnya luruh saat ia menyebut nama suaminya, Romi (40).
Romi ditemukan meninggal setelah galodo menggulung rumah mereka pada 27 November. Bencana itu juga merenggut nyawa mertua Rahmi, keponakan suaminya, serta seorang bayi berusia tiga bulan. Duka yang terlalu besar untuk bahu seorang perempuan yang bahkan belum bisa berdiri.
Arief menjelaskan bahwa Rahmi adalah THL bidang peternakan yang tengah menunggu proses seleksi P3K Paruh Waktu. Sejak kecelakaan kerja pada Juni 2025, yang membuat kaki Rahmi patah, ia belum dapat berjalan normal. Kondisi itu pula yang membuatnya sulit menyelamatkan diri saat bencana datang.
“Fokus beliau sekarang adalah sembuh dulu. Semua hak beliau sebagai THL tetap kami jaga,” tegas Arief.
Helton, yang turut hadir, menyampaikan belasungkawa mendalam.
“Bu Rahmi bukan hanya selamat dari bencana, tetapi juga sedang berjuang pulih dari cedera. Kita ingin memastikan beliau mendapat dukungan yang layak,” ungkapnya.
Meski Bupati Agam Benni Warlis belum dapat hadir karena masih fokus pada penanganan bencana di berbagai titik, ia menitipkan salam duka dan doa agar Rahmi diberi kekuatan menghadapi cobaan ini.
Kunjungan itu turut didampingi Sekretaris Dinas Pertanian Agam, Jafrika, Tim Sakura, dan LA Community satu per satu hadir sebagai tanda bahwa Rahmi tidak sedang berduka dalam sunyi.
Arief menutup kunjungan dengan apresiasi kepada H. Isman Tanjung.
“Terima kasih kepada Bapak Isman yang tidak pernah berhenti membantu korban bencana, termasuk Ibu Rahmi hari ini,” ujarnya.
Rahmi masih bersandar pada tongkat dan bantuan keluarga untuk menjalani hari. Namun di balik kelemahan fisik itu, ia menyimpan satu kekuatan kecil yang mulai tumbuh kembali harapan.
“Saya ingin kuat demi mereka…” katanya pelan, menatap kedua anaknya.
Kehadiran berbagai pihak hari itu memberi Rahmi bukan hanya bantuan, tetapi juga pengingat bahwa meski hidupnya runtuh dalam sekejap, ia tidak akan membangunnya kembali seorang diri. Semoga aliran kepedulian ini terus menguat, menjadi cahaya bagi Rahmi dan para penyintas lainnya untuk bangkit dari puing-puing bencana.(Bagindo)












