Agam, Wartapatroli.com – Di tengah cuaca ekstrem yang masih menyelimuti Kabupaten Agam, dan situasi darurat pascabencana, Pemerintah Daerah menegaskan komitmennya menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar (PBM) bagi siswa di wilayah terdampak. Meski sekolah masih difungsikan sebagai lokasi pengungsian, PBM dipastikan tetap berjalan tanpa terhenti.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Andri, S.T., M.T., turun langsung ke lapangan hanya sehari setelah resmi dilantik, Sabtu (3/1), untuk memastikan kesiapan sekolah-sekolah terdampak bencana.
Didampingi Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Agam Fadli S., S.Pd., M.Pd., Andri meninjau SDN 05 Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, bersama Camat Palembayan Sabirun dan Kepala Sekolah SDN 05 Kayu Pasak Novita Yuliarma, S.Pd.
Langkah cepat tersebut diambil menyusul belum dapat dipindahkannya para pengungsi dari SDN 05 Kayu Pasak akibat kondisi cuaca yang belum bersahabat, sehingga aktivitas belajar mengajar belum sepenuhnya kembali normal. Namun demikian, Disdikbud Agam telah menyiapkan skema darurat agar hak belajar siswa tetap terpenuhi.
“Sebagian ruang kelas yang selama ini digunakan untuk pengungsian kita kosongkan sementara untuk pelaksanaan PBM. Sementara sebagian siswa lainnya menumpang belajar ke SDN 36 Kayu Pasak,” ujar Andri Saat dikonfirmasi Wartapatroli.com Sabtu (3/1) melalui sambungan cellularnya.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti meski bencana melanda. Keberlangsungan PBM dinilai sangat penting, tidak hanya untuk aspek akademik, tetapi juga untuk memulihkan kondisi psikologis dan mental siswa pascabencana.
“Kita perlu segera melaksanakan PBM dan mengembalikan mental anak-anak kita. Alhamdulillah, seluruh sekolah di Palembayan pada prinsipnya siap melaksanakan pembelajaran,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Palembayan Sabirun menyampaikan harapan agar pembangunan hunian sementara (Huntara-red) bagi para pengungsi dapat segera rampung, sehingga sekolah dapat kembali difungsikan sepenuhnya sebagai pusat pendidikan.
“Mudah-mudahan dua minggu lagi huntara bisa siap, tentu dengan catatan cuaca mendukung. Jika terealisasi, pengungsi bisa dipindahkan dan anak-anak dapat kembali belajar di sekolahnya sendiri,” ujarnya.
Sabirun juga menekankan urgensi percepatan pemindahan pengungsi, mengingat siswa kelas VI akan menghadapi ujian akhir sekolah pada Maret mendatang, yang membutuhkan kondisi belajar lebih kondusif.
Saat ini, tercatat masih terdapat dua sekolah yang digunakan sebagai lokasi pengungsian, yakni SDN 17 Lambeh Palembayan sebanyak satu lokal, serta SDN 05 Kayu Pasak.
Di tengah situasi darurat bencana, Pemerintah Kabupaten Agam berharap melalui koordinasi lintas sektor, pembangunan huntara dan pemulihan sektor pendidikan dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, di bawah langit yang masih diuji hujan dan lumpur, suara belajar anak-anak Agam tetap bergema menjadi tanda bahwa pendidikan tak pernah menyerah pada bencana.(En Tanjung)












