Agam, Wartapatroli.com,
Kabupaten Agam kembali diselimuti duka. Hingga Rabu (10/12), jumlah korban meninggal akibat bencana hidrometeorologi telah mencapai 190 jiwa. Dari jumlah tersebut, 25 korban masih belum teridentifikasi, seakan menyisakan gema pilu yang menggantung di langit Agam.
Luka terdalam dirasakan Kecamatan Palembayan, dengan 140 korban jiwa. Disusul Malalak 14 orang, Tanjung Raya 10 orang, Matur 1 orang, Palupuah 1 orang, dan Ampek Nagari 1 orang. Setiap angka bukan sekadar data — melainkan nama, cerita, dan harapan yang terhenti.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Roza Syefridianti, saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, menyampaikan bahwa mayoritas jenazah telah dimakamkan dengan hormat. Termasuk korban yang tak berjuluk nama, namun tetap manusia yang pulang kepada Sang Pencipta.
Sebanyak 17 jenazah hasil identifikasi di RS Bhayangkara Padang telah dimakamkan di TPU Bungus, Rabu siang. Sementara 10 korban yang teridentifikasi oleh tim DVI RSUD Lubukbasung akan dikebumikan Kamis besok di TPU Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, Kampuang Baru, Sungai Jariang.
Di tengah kabar duka, harapan masih menyala tipis. Sebanyak 72 korban masih dinyatakan hilang, dengan rincian:
Palembayan: 66 orang
Malalak: 3 orang
Tanjung Raya: 2 orang
Lubukbasung: 1 orang
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmad Lasmono, sebelumnya menyampaikan bahwa upaya pencarian akan diperpanjang hingga 15 hari ke depan, sesuai permohonan Pemkab Agam kepada Basarnas. Waktu diperpanjang, harapan pun ikut dipanjangkan.
“Kami bersama tim SAR Gabungan akan terus berupaya maksimal di lapangan. Mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat,” ungkap Rahmad, menyiratkan semangat yang tak padam meski hari-hari dipenuhi lumpur dan air mata.
Di antara sirene, doa, dan derap langkah para relawan, Agam berdiri dalam satu simpul:
Bahwa bencana boleh meruntuhkan tanah, tapi tidak akan pernah meruntuhkan kebersamaan dan kemanusiaan.(Bagindo)












