Agam  

Galodo Mengancam Dua Nakes ‘Nekat’ Tembus Jalur Maut ke Salareh Aia

Agam, Wartapatroli.com, – Di tengah tubuh bumi yang retak dan jalanan yang terbelah seperti nadi yang kehilangan arah, dua tenaga kesehatan dari Batu Kambing memilih bergerak bukan karena keberanian semata, tetapi karena panggilan nurani yang lebih nyaring dari gelegar galodo.

Tanah yang amblas, bebatuan yang berserak, dan aliran lumpur yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi gelombang maut tidak mampu menghentikan langkah mereka. Dalam senyap sore yang dipenuhi aroma tanah basah dan kecemasan warga, keduanya menembus jalur ekstrem menuju Salareh Aia Timur jalur yang kini hanya bersahabat bagi sepeda motor dan doa.

Pemerintah daerah, melalui pantauan berkelanjutan di lapangan, memastikan bahwa setiap inci upaya penyelamatan tidak berjalan sendiri.
“Kami berkoordinasi dengan OPD, nagari, dan relawan. Yang terpenting, bantuan medis, logistik, dan evakuasi tetap aman dan sampai kepada masyarakat,” ujar pihak terkait.

Di Puskesmas Koto Alam, denyut kerja tak pernah seredup cahaya listrik yang sering padam. Lonjakan pasien dari wilayah terdampak membuat ruang pelayanan terasa sempit, namun semangat para nakes tak pernah ikut runtuh.

“Kami minta bantuan tenaga medis dari Batu Kambing karena beban di Koto Alam meningkat. Akses sulit, tapi pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti,” terang Roza, penuh ketegasan yang bercampur harap.

Dan benar meski jalur longsor seolah ingin menelan apa pun yang lewat, kedua tenaga medis itu akhirnya tiba di Salareh Aia Timur. Mereka disambut warga yang membantu menuntun laju motor melewati tanah licin, serupa arak-arakan kecil yang menjaga nyala harapan di tengah murka alam.

Di antara simpang siur galodo dan langit kelabu yang tak kunjung reda, langkah mereka menjadi penanda bahwa kemanusiaan masih lebih keras suaranya daripada gemuruh bencana.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *