Agam  

Haru Menyelimuti Prosesi Pemakaman 10 Jenazah Tanpa Identitas

Agam, Wartapatroli.com — Di bawah langit mendung Lubuk Basung, Kamis (11/12), 10 jenazah korban banjir bandang yang belum teridentifikasi disemayamkan di TPU Sungai Jariang. Hening menyelimuti tempat peristirahatan itu, seolah alam ikut berkabung atas mereka yang pergi tanpa nama.

Prosesi pemakaman berlangsung penuh haru. Kepolisian, pemerintah daerah, hingga tim DVI dari berbagai wilayah berdiri membentuk lingkar penghormatan terakhir. Di tengah pekatnya duka, rasa kemanusiaan menyatukan semua pihak yang hadir.

Wakapolsek Lubuk Basung IPDA Riqul Mukhtadi, S.H. menegaskan bahwa setiap jenazah diperlakukan dengan penuh kehormatan meski belum teridentifikasi.

“Kami memastikan seluruh rangkaian pemakaman berjalan aman dan tertib. Walaupun belum diketahui identitasnya, mereka tetap kita muliakan sebagaimana mestinya,” ujarnya dengan suara yang berat oleh rasa kehilangan.

Para personel Polres Agam bersama BKO Polda Riau menjaga lokasi pemakaman, memastikan ibadah terakhir itu berlangsung khidmat tanpa gangguan.

Sebelum dibawa ke tempat peristirahatan, seluruh jenazah disalatkan di Masjid Nurul Falah, dengan Kapolres Agam AKBP Muari bertindak sebagai imam. Lantunan doa mengalun pelan, memecah keheningan, mengantar para korban menuju alam abadi.

Direktur RSUD Lubuk Basung, dr. M Riko Krisman, menyampaikan bahwa proses identifikasi masih terus dilanjutkan.

“Jika dalam beberapa hari ke depan terdapat kecocokan data antemortem, pemindahan jenazah sesuai prosedur tetap dapat dilakukan,” jelasnya, menjawab Wartapatroli.com Kamis (11/12)

Dari 10 jenazah itu, masing-masing terdiri dari 3 anak perempuan, 3 perempuan dewasa, 2 laki-laki dewasa, dan 2 anak laki-laki sebuah angka yang menyiratkan betapa luasnya luka yang ditinggalkan bencana ini.

Hadir pula sejumlah pejabat tinggi Polri, seperti Brigjen Pol Mashudi, Kombes Pol dr. Wahyu Hidayati, Kombes Pol Susmelawati Rosya, serta berbagai jajaran dari Polda Sumbar dan Polda Riau. Kehadiran mereka menjadi wujud komitmen bahwa proses identifikasi dilakukan dengan profesional, transparan, dan sepenuh hati.

“Kami terus mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan keluarga untuk melapor ke posko DVI. Semakin lengkap data yang diberikan, semakin cepat kami melakukan pencocokan,” tambah dr. Riko.

Prosesi pemakaman berakhir menjelang siang. Doa dipanjatkan bersama, tanda pada setiap makam dipasang dengan rapi menjadi penanda bahwa meski mereka pergi tanpa nama, negara dan masyarakat tidak pernah membiarkan mereka pergi tanpa penghormatan.

Di balik tanah merah yang masih basah, tersimpan harapan bahwa suatu hari nanti, setiap nama akan kembali ke keluarganya, dan setiap duka mendapat tempat untuk pulang.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *