Agam, Wartapatroli.com, – Masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Agam telah berakhir, namun dampak panjang yang ditinggalkan masih terasa kuat, khususnya pada sektor pendidikan. Pasca bencana, dunia pendidikan di daerah ini menghadapi krisis serius setelah ratusan fasilitas sekolah rusak berat hingga tidak dapat difungsikan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Wartapatroli.com, Sabtu (13/12) yang terus diperbarui pemerintah daerah, tercatat sedikitnya 126 sekolah terdampak, dengan 102 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat mulai dari jenjang TK, SD hingga SMP. Banyak bangunan sekolah hancur, hanyut terbawa arus banjir bandang, atau mengalami retakan serius akibat longsor.
Dampak kemanusiaan yang ditimbulkan juga sangat memilukan. Hingga masa pasca darurat, tercatat 26 orang guru dan siswa wafat akibat bencana tersebut. Sementara itu, nasib sejumlah tenaga pendidik dan peserta didik masih belum diketahui secara pasti, karena hingga kini masih ada yang belum ditemukan dan beberapa wilayah sempat terisolasi total saat bencana terjadi.
Akibat kerusakan parah tersebut, ribuan siswa kehilangan ruang belajar. Proses belajar mengajar belum dapat berjalan normal karena banyak sekolah tidak lagi memiliki gedung yang layak. Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini tengah mengupayakan solusi darurat berupa sekolah sementara, penggabungan kelas, serta pembelajaran alternatif di lokasi aman.
Salah satu wilayah terdampak terparah adalah Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. Kawasan ini sempat terisolasi dan hingga pasca darurat, akses bantuan masih terbatas. Distribusi logistik, termasuk bantuan pendidikan, hanya dapat dilakukan melalui jalur air menggunakan perahu menyusuri Danau Maninjau.
Pemerintah Kabupaten Agam menegaskan bahwa pemulihan sektor pendidikan menjadi prioritas utama pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain pembangunan kembali sarana sekolah, perhatian juga difokuskan pada pemulihan psikososial siswa dan guru yang mengalami trauma mendalam akibat bencana.
Bencana ini tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi dunia pendidikan Agam. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang serta dukungan dari pemerintah pusat, provinsi, dan seluruh elemen masyarakat.(Bagindo)












