Agam  

Terseok Oleh Pelayanan, PDAM Tirta Antokan Butuh Pemimpin Yang Profesional.

Agam, Wartapatroli.com, – Lubuk Basung tercatat sebagai salah satu wilayah yang relatif aman dari terjangan Banjir dan Galodo yang melanda Kabupaten Agam, beberapa hari belakangan, Tidak ada rumah hanyut diseret arus, tidak terlihat pula gelombang pengungsian. Beberapa titik longsor memang sempat menutup akses jalan, namun kondisi itu cepat tertangani.

Ironisnya, justru di tengah situasi yang relatif normal itu, warga Lubuk Basung terutama di Nagari Garagahan, dan Kampung Pinang, juga beberapa daerah lainnya, mengalami krisis yang tak kasat mata namun sangat terasa, Air bersih tak lagi mengalir ke rumah-rumah dan tempat ibadah

Air yang Hanya Singgah

Sudah berminggu-minggu air PDAM Tirta Antokan tidak mengalir secara normal. Keran-keran di rumah warga kering. Air sempat hidup sebentar, lalu mati kembali hingga kini. Datang sekilas, seolah menyapa, lalu pergi tanpa pesan dan tanpa kepastian.

Pasalnya bagi warga, air bukan sekadar fasilitas. Ia adalah kebutuhan paling dasar. Ketika air hilang, aktivitas rumah tangga lumpuh perlahan memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan menjadi persoalan harian.

Gangguan Teknis atau Masalah Manajerial..?

Pertanyaan warga kian mengeras apa sebenarnya kendala utama yang terjadi..? Apakah jaringan pipa rusak parah..? Distribusi air bermasalah..? Atau ada persoalan teknis lain yang belum disampaikan secara terbuka..?

Kecurigaan publik bukan tanpa dasar. Sejak adanya pergantian pimpinan dan pejabat teknis di tubuh PDAM Tirta Antokan, gangguan pasokan air dinilai semakin sering terjadi dan berulang. Keluhan masyarakat meningkat, sementara solusi yang benar-benar dirasakan belum kunjung datang.

Antara Dokumentasi Kerja dan Hasil Nyata

Di berbagai grup WhatsApp, foto-foto petugas PDAM yang tengah memperbaiki pipa rutin beredar. Galian tanah, sambungan pipa, dan aktivitas lapangan seolah menjadi bukti bahwa pekerjaan dilakukan.

Namun di balik layar foto-foto itu, kenyataan di rumah warga tak berubah. Keran tetap kering. Perbaikan yang terdokumentasi belum berbanding lurus dengan hasil yang dirasakan masyarakat.

Pelayanan Publik yang Dibiarkan Berlarut

Gangguan satu atau dua hari mungkin masih bisa dimaklumi. Namun ketika kondisi ini berlangsung berminggu-minggu tanpa penjelasan yang jelas, wajar jika masyarakat mulai mempertanyakan kinerja dan tanggung jawab penyedia layanan.

Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka mengenai akar persoalan, skema penanganan yang pasti, maupun tenggat waktu kapan air akan kembali mengalir normal ke rumah warga.

Bencana yang Tak Ditetapkan, Tapi Dirasakan

Lubuk Basung memang tidak tercatat sebagai wilayah terdampak bencana alam. Namun dalam urusan air bersih, warga merasakan dampak yang tak kalah berat: bencana layanan dasar.

Air bersih adalah hak, bukan privilese. Ketika layanan ini gagal dipenuhi, yang terancam bukan hanya kenyamanan, tetapi juga kesehatan dan martabat hidup masyarakat.

Menunggu Kejujuran dan Kepastian

Warga Lubuk Basung tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya menunggu kejujuran, keterbukaan, dan kepastian. Jika kerusakan berat, sampaikan apa adanya. Jika butuh waktu lama, jelaskan dengan transparan.

Karena di rumah-rumah sederhana warga, kehadiran negara sering kali hanya terasa dari satu hal paling mendasar: air yang mengalir dari keran.

Lubuk Basung selamat dari galodo. Namun tanpa air bersih, rasa aman itu perlahan mengering, dan warga mempertanyakan dimana tanggung jawab, namun tetap bernarasi dan elegan tidak sekadar marah, tapi menggugah.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *