Agam  

11 Sarana Ibadah Di Enam Kecamatan Mengalami Kerusakan Parah Diterjangan Banjir Dan Tanah Longsor.

Agam, Wartapatroli.com —
Derasnya amukan bencana hidrometeorologi 2025 tak hanya merobek bentang alam Kabupaten Agam, tetapi juga melukai ruang-ruang suci tempat masyarakat bersujud dan berharap. Tercatat, 11 sarana ibadah masjid dan mushalla di enam kecamatan mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir bandang dan tanah longsor.

Pantauan Wartapatroli.com, Rabu (17/12), menunjukkan sebagian besar bangunan ibadah tersebut tak lagi dapat dimanfaatkan, dinding roboh, lantai tergerus, dan perlengkapan ibadah tersapu arus. Di sejumlah lokasi, puing-puing masih bercampur lumpur, menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana.

Berdasarkan update Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam, kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Tanjung Raya, meliputi Masjid Al Ihsan Labuhan, Mushalla Koto Tinggi, dan Masjid Galapuang.
Sementara di Kecamatan Palembayan, empat sarana ibadah terdampak, yakni Masjid Taqwa Kampuang Tangah, Masjid Syuhada Kayu Pasak, serta Masjid Babussalam Bateh Tinggi.

Kerusakan juga tercatat di kecamatan lainnya, masing-masing Masjid Taqwa Labuhan dan Mushalla An Nur di Tanjung Mutiara, Masjid Al Ihsan Galudua di IV Koto, Masjid Darul Aman Toboh di Malalak, serta Mushalla Pincuran Gadang di Kecamatan Matur.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Raza Syefridianti, menyampaikan bahwa total kerugian akibat kerusakan 11 sarana ibadah tersebut mencapai Rp1,58 miliar.
“Seluruh data telah kami bahas dan menjadi bagian dari rencana penanganan lanjutan pada fase pascatanggap darurat,” ujarnya di ruang kerja, Rabu (17/12).

Di lapangan, kondisi paling memprihatinkan masih terlihat di Kecamatan Tanjung Raya, wilayah yang terus dibayangi genangan banjir akibat tingginya curah hujan. Hingga kini, air masih merendam sejumlah titik di Nagari Tiku V Jorong, memperlambat upaya pembersihan dan pemulihan.

Di tengah situasi darurat, masjid dan mushalla yang biasanya menjadi pusat ketenangan kini berubah menjadi simbol duka sekaligus harapan—harapan agar pemulihan segera terwujud dan denyut kehidupan kembali berdenyut dari rumah-rumah ibadah yang sempat terdiam.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *