Agam, Wartapatroli.com —
Di tengah kepungan lumpur, longsor, dan sisa amukan banjir bandang, derap langkah prajurit TNI tak pernah surut meninggalkan rakyat. Sejak hari-hari pertama bencana hidrometeorologi 2025 melanda Kabupaten Agam, jajaran TNI di bawah komando Kodim 0304/Agam tampil di garda terdepan, bahu-membahu bersama masyarakat menembus keterisolasian dan keterbatasan.
Tanpa mengenal medan berat dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat, personel TNI diterjunkan ke berbagai titik terdampak, mulai dari Malalak, Palembayan, Tanjung Raya, Matur, hingga kawasan-kawasan terpencil yang sempat terputus akibat longsor dan banjir bandang. Jalan yang runtuh, jembatan yang tergerus, serta lereng yang masih labil tak menyurutkan semangat prajurit untuk memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat.
Tak hanya membuka akses dan membantu evakuasi, perhatian TNI juga tertuju pada kebutuhan paling mendasar pasca bencana: air bersih. Menjawab keluhan warga, tim TNI bergerak cepat membangun jaringan darurat air bersih, memasang tendon-tendon air di sejumlah lokasi, di antaranya di Salareh Aia dan Palembayan, agar denyut kehidupan warga tetap terjaga.
Di Kecamatan Tanjung Raya, prajurit TNI bahkan turun langsung membenahi jaringan PAMSIMAS yang rusak parah diterjang banjir bandang dan longsor. Upaya ini menjadi nafas harapan baru bagi warga yang sebelumnya kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami bergerak maksimal membantu warga terdampak bencana, apa pun bentuknya. Sesuai perintah pimpinan, seluruh prajurit TNI akan diterjunkan untuk rakyat,” tegas Dandim 0304/Agam, Letkol Inf Slamet Dwi Santoso, saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, Rabu (16/12), usai mendampingi Anggota DPRD Sumbar H. Nofrizon mengantarkan bantuan ke wilayah Salareh Aia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Wartapatroli.com, kiprah TNI di Kabupaten Agam tak hanya sebatas penanganan darurat. Mulai dari membuka isolasi wilayah, mendistribusikan bantuan logistik, memperbaiki sarana air bersih, hingga mendukung pemulihan awal pascabencana, seluruhnya dilakukan dengan semangat pengabdian.
Di saat duka masih menyelimuti, kehadiran prajurit berseragam loreng itu menjadi simbol keteguhan: bahwa di setiap bencana, TNI hadir, bekerja, dan berdiri bersama rakyat.(Bagindo)












