Agam, Wartapatroli.com — Kekecewaan masyarakat terhadap kondisi infrastruktur di Kabupaten Agam kian memuncak, hal ini efek dari rusaknya Ruas jalan provinsi Simpang Gudang–Padang Lua yang menjadi urat nadi aktivitas warga, hingga kini masih dibiarkan dalam kondisi rusak parah tanpa penanganan serius.
Kondisi ini diperburuk daenga Lubang-lubang besar yang menganga di sepanjang jalan, sebagian bahkan tertutup genangan air saat hujan, menjadikan jalur tersebut rawan kecelakaan.
Ironisnya, di tengah situasi berbahaya itu, janji perbaikan yang sempat digaungkan Bupati Agam Ir. Benni Warlis bersama pasangannya Muhammad Iqbal saat masa kampanye, tak kunjung terealisasi, dan menjadi lipe cervuce semata.
Sebagai bentuk protes sekaligus upaya darurat, warga terpaksa menanam pohon pisang di tengah jalan. Aksi ini dilakukan bukan sekadar simbol kekecewaan, melainkan peringatan nyata bagi pengendara agar tetap waspada terhadap lubang yang bisa mencelakakan, terutama pada malam hari.
“Ini bukan sekadar protes, tapi untuk menghindari korban. Banyak yang sudah jatuh, apalagi kalau malam dan hujan, lubangnya tidak terlihat,” ujar Burhan (48) salah seorang pengguna jalan, pada Wartapatroli.com Minggu (26/4).
Tidak berhenti sampai disitu kondisi ini diperparah dengan minimnya penerangan jalan serta tidak adanya perbaikan sementara dan rambu yang memadai. Di beberapa titik, warga bahkan menutup lubang dengan kayu dan balok seadanya.
Padahal sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Sekdaprov Arry Yuswandi menyampaikan rencana perbaikan ruas jalan tersebut. Namun hingga kini, realisasi di lapangan nihil, seolah janji hanya berhenti sebagai wacana.
Pantauan Wartapatroli.com di lapangan menunjukkan kerusakan merata di berbagai kecamatan, mulai dari Lubuk Basung, Tanjung Raya, Matur, IV Koto hingga Banu hampu sampai Padang Lua.
Sejumlah titik bahkan mengalami kerusakan berat akibat dampak bencana, termasuk erupsi Gunung Marapi pada 2023 lalu.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat, apakah Bupati Agam Ir Benni Warlis, tidak mampu, atau tidak mau, memperjuangkan perbaikan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar warganya..?
Sebagai pemimpin dengan nuansa religi janji politik semestinya menjadi komitmen yang diperjuangkan, bukan sekadar retorika untuk meraih simpati warga hingga mencapai singgadana.
Ketika masyarakat harus bertaruh nyawa setiap hari di jalan rusak, maka kegagalan memperbaiki infrastruktur bukan lagi soal keterlambatan, melainkan bentuk nyata dari pengabaian tanggung jawab.
Kini, warga hanya bisa berharap agar janji tidak terus menjadi ilusi, dan pemerintah segera hadir sebelum lebih banyak korban berjatuhan.(Bagindo)












