Agam  

Pemimpin yang Terbelenggu di Singgasana Sendiri

  • Oleh : Yusra Wafilma
    Pemimpin Redaksi
    Wartapatroli com

Ada masa ketika seorang Pemimpin (Bupati-red) berdiri layaknya seorang maestro, mengangkat tongkat komando untuk memulai simfoni perubahan. Rakyat menanti alunan harmoni yang dijanjikan, kesejahteraan, keadilan, transparansi, dan keberpihakan sebagai mana yang diharapkan rakyatnya.
Namun sayang, ketika tirai pertunjukan dibuka, yang terdengar hanyalah denting gamang dari instrumen yang tak pernah benar-benar disentuh.

Pemimpin itu seakan duduk di atas singgasana emas yang sebenarnya adalah kurungan kaca.
Ia bisa melihat rakyatnya, mendengar keluhannya, merasakan gelombang aspirasi yang bergerak seperti ombak memukul dinding pantai, tetapi tidak mampu menjangkau mereka. Kebijakan-kebijakannya seperti burung yang sayapnya dipangkas, ingin terbang, tapi selalu jatuh terpeleset oleh kepentingan yang membelit.

Di atas panggung kekuasaan, ia mungkin tampak tegap.
Namun dari dekat, tampak jelas betapa tali-tali kepentingan, janji politik, dan ketakutan kehilangan wajah mengikat pergelangan tangannya. Ia tak lebih dari wayang yang ingin merdeka, tapi dalangnya terlalu banyak.

Rakyat pun melihat ini bukan sebagai tragedi, melainkan ironi yang berulang-ulang.
Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang mengaku bebas, tetapi tidak berani menegakkan kebijakan yang benar..?
Bagaimana mungkin sebuah janji yang pernah menyerupai puisi, kini berubah menjadi slogan kosong tanpa makna..?

Setiap keputusan yang lahir dari kekuasaan yang terkekang hanyalah bayangan, bukan cahaya.
Hanya gema jauh dari suara rakyat, bukan jawabannya.
Hanya ruang kosong yang disulap menjadi pencitraan.

Selama Pemimpin enggan memutus rantai yang menjerat dirinya, entah itu ambisi kelompok, kepentingan segelintir, atau rasa takut menghadapi kebenaran, maka kebijakannya tak akan pernah menjadi angin sejuk penyejuk rakyat.
Ia akan tetap menjadi lukisan indah namun tak hidup, terpajang megah tetapi tak memberi apa-apa.

Rakyat tak butuh Pemimpin yang hanya berani berjanji, tetapi takut menepati.
Tak perlu Pemimpin yang fasih bicara perubahan, tetapi gagap ketika diminta bukti.

Karena pada akhirnya, sejarah hanya mencatat dua jenis pemimpin,
mereka yang berani membebaskan diri untuk membela rakyat, dan mereka yang rela dipenjara demi menyenangkan kekuasaan.

Dan sayangnya, sebagian Pemimpin hari ini masih memilih duduk nyaman dalam Penjara yang mereka bangun sendiri.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *