Jejak Paket Sabu – sabu dalam Kerupuk Sanjai,
Agam, wartapatroli com, – Membongkar Modus Penyelundupan Narkoba dari Agam ke Bekasi, Upaya penyelundupan Narkotika jenis sabu-sabu kembali terendus aparat. Kali ini, Modusnya terbilang licik, menyelipkan kristal mematikan itu ke dalam Paket Kerupuk Sanjai, camilan khas Minang yang lazim dikirim sebagai buah tangan. Namun di balik bungkus makanan ringan itu, tersembunyi jaringan kejahatan yang mencoba memanfaatkan celah pengiriman logistik.
Informasi yang didapat wartapatroli.com, Investigasi awal Satres Narkoba Polresta Bukittinggi mengarah pada seorang pria sebut saja Julpahmi Siregar (40), warga Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Ia ditangkap setelah diduga kuat mencoba mengirim 50 gram sabu-sabu ke Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menggunakan jasa ekspedisi JNE.
Modus Pengiriman yang Dipoles Rapi
Menurut keterangan AKP Nofridal, Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Bukittinggi, paket tersebut dikirim pada Jumat (14/11) pukul 10.00 WIB, melalui gerai JNE di Simpang Biaro, Nagari Lambah, Kecamatan Ampek Angkek. Di permukaan, paket itu tampak seperti kiriman biasa berisi kerupuk sanjai. Namun hasil pemeriksaan petugas menemukan ada ruang khusus di dalam kemasan yang telah dimodifikasi sebagai tempat penyimpanan sabu.
Sumber internal di lapangan menyebut, struktur kerupuk sanjai yang ringan dan berongga kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan sebagai penyamaran. Dalam kasus ini, kemasan luar tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan—sebuah indikator bahwa pelaku telah mempelajari cara mengelabui sistem pemeriksaan dasar di layanan ekspedisi.
Pertanyaan Besar: Aktor Tunggal atau Bagian Jaringan..?
Sejumlah kejanggalan memunculkan dugaan bahwa Julpahmi bukanlah pemain tunggal. Nilai jual 50 gram sabu di wilayah Jawa Barat diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah—angka yang terlalu besar untuk transaksi individu tanpa kendali jaringan.
Selain itu, Bekasi dikenal sebagai salah satu wilayah distribusi bagi sindikat narkotika lintas provinsi, sehingga arah pengiriman makin menguatkan dugaan bahwa kasus ini terkait jaringan yang lebih besar.
Hingga kini, aparat masih mendalami,
Siapa penerima paket di Bekasi..?
Apakah Julpahmi hanya kurir, atau bagian dari struktur distribusi..?
Bagaimana ia memperoleh sabu tersebut..?
Apakah perusahaan ekspedisi telah menjadi jalur rutin bagi sindikat..?
Celah Keamanan Ekspedisi yang Kembali Terbongkar
Kasus ini membuka kembali perdebatan tentang lemahnya pengawasan terhadap barang kiriman antardaerah. Sistem pemeriksaan acak yang diterapkan ekspedisi sering kali tidak efektif untuk mendeteksi modus pengemasan terlatih. Penyelundup memanfaatkan volume kiriman harian yang tinggi dan keterbatasan sarana deteksi untuk menyisipkan komoditas terlarang.
Seorang petugas ekspedisi yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa mereka hanya mengandalkan scanner dasar untuk memeriksa isi paket, yang tidak selalu mampu mengidentifikasi benda terlarang jika dikamuflase dengan baik.
Arah Penyelidikan
Polisi saat ini telah mengamankan pelaku dan barang bukti. Penyelidikan berikutnya diarahkan pada jejak komunikasi, transaksi keuangan, serta hubungan pelaku dengan pihak di Bekasi.
AKP Nofridal menegaskan bahwa mereka tidak hanya memburu pengirim, tetapi juga bertekad mengungkap keseluruhan jaringan yang mungkin beroperasi di balik pengiriman tersebut.(Bagindo)












